Memuat tanggal...
Logo
24 Kopaja yang Dipesan BEM UI Mendadak Batal, Massa Tetap Bergerak ke Bundaran HI
Megapolitan 18 August 2026, 14:58 WIB Shaddam Putra

24 Kopaja yang Dipesan BEM UI Mendadak Batal, Massa Tetap Bergerak ke Bundaran HI

Rencana perjalanan massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Selasa (18/8/2026), mendadak berubah ketika sebanyak 24 Kopaja yang sebelumnya disiapkan untuk mengangkut mahasiswa batal digunakan.

Sumber: KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo

Koordinator Bidang Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, mengatakan pembatalan tersebut terjadi setelah pihaknya mendapat informasi bahwa para sopir Kopaja diminta tidak mengangkut massa aksi. Menurut Hafidz, para sopir bahkan disebut mendapat ancaman pemecatan jika tetap membawa mahasiswa menuju lokasi demonstrasi. Hafidz menyebut pihaknya memang sudah mencarter 24 Kopaja untuk kebutuhan mobilisasi. Namun, ketika hendak digunakan, sejumlah kendaraan tersebut tidak jadi mengangkut mahasiswa.

"Kami tidak menyalahkan driver-driver tersebut," ujar Hafidz. Ia menilai para sopir juga berada dalam posisi sulit karena harus mempertimbangkan pekerjaan dan sumber penghasilan mereka.

Situasi tersebut akhirnya membuat massa BEM UI mencari alternatif transportasi. Mahasiswa kemudian berangkat menggunakan angkot menuju Bundaran HI untuk tetap mengikuti aksi yang sudah direncanakan.

BEM UI menilai kejadian ini perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kebebasan menyampaikan pendapat. Hafidz menyayangkan adanya dugaan upaya untuk menghambat mobilisasi mahasiswa yang hendak melakukan demonstrasi. Menurut dia, aksi tersebut merupakan bagian dari hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dalam negara demokrasi. Karena itu, persoalan transportasi yang tiba-tiba berubah bukan sekadar masalah teknis bagi mahasiswa, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana proses mobilisasi massa aksi bisa terganggu.

Dalam demonstrasi kali ini, BEM UI membawa delapan tuntutan. Di antaranya menghentikan korupsi, kolusi, dan nepotisme, mewujudkan reforma agraria, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta mengevaluasi program pemerintah seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih.

Bagikan Artikel: