Memuat tanggal...
Logo
55 Negara Eropa Anggota UEFA Bersatu Tolak FIFA, Piala Dunia Terancam Kehilangan Kekuatan Terbesarnya
Sport 31 July 2026, 15:18 WIB Shaddam Putra

55 Negara Eropa Anggota UEFA Bersatu Tolak FIFA, Piala Dunia Terancam Kehilangan Kekuatan Terbesarnya

Gelombang penolakan terhadap rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta kini berubah menjadi krisis politik terbesar yang dihadapi Presiden FIFA Gianni Infantino. Konfederasi sepakbola benua terbesar dunia UEFA resmi mengambil sikap terbuka menentang proposal tersebut.

Sumber: Carl Recine/Getty Images

Dalam rapat darurat yang digelar Kamis (30/7/2026), seluruh 55 asosiasi anggota UEFA secara bulat menyepakati bahwa mereka akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana penjualan hak kepemilikan Piala Dunia tetap dilanjutkan. Artinya bukan hanya Piala Dunia Pria, tetapi juga Piala Dunia Wanita 2027 dan kompetisi kelompok umur bisa kehilangan seluruh peserta dari Eropa.

Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan bahwa Piala Dunia bukanlah aset investasi yang bisa diperjualbelikan kepada pihak swasta. Menurut mereka, FIFA seharusnya tetap menjadi penjaga kepentingan sepak bola dunia, bukan mengubah turnamen paling bergengsi menjadi instrumen investasi.

CONCACAF yang menaungi 41 negara di Amerika Utara, Tengah dan Karibia ikut menyatakan penolakan. Meski belum mengancam boikot seperti UEFA, seluruh anggota konfederasi tersebut secara bulat menolak proposal FIFA dalam pertemuan darurat mereka. CONCACAF menilai proses pengajuan proposal terlalu terburu-buru, minim transparansi dan menyisakan banyak pertanyaan mengenai tata kelola organisasi di masa depan.

UEFA mewakili sebagian besar kekuatan sepak bola dunia. Mulai dari Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis hingga Italia. Sementara CONCACAF mencakup Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada yang baru saja menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Ketika dua konfederasi sebesar ini berada di kubu yang sama, tekanan terhadap FIFA meningkat drastis.

Secara politik, situasi ini bisa menjadi titik balik bagi kepemimpinan Infantino. Proposal penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia sebelumnya dipromosikan sebagai cara memperoleh dana baru untuk memperluas investasi sepak bola global. Namun banyak federasi justru khawatir langkah tersebut akan membuat investor swasta memiliki pengaruh besar terhadap arah penyelenggaraan turnamen paling bergengsi di dunia.

Dampaknya pun bisa sangat besar apabila konflik tidak segera diselesaikan. Tanpa negara-negara Eropa, nilai komersial Piala Dunia akan merosot tajam karena sebagian besar juara dunia, pemain bintang dan pasar siaran terbesar berasal dari kawasan tersebut. Jika penolakan juga meluas ke konfederasi lain seperti CONMEBOL, CAF atau AFC, FIFA berpotensi menghadapi krisis legitimasi yang belum pernah terjadi dalam era modern.

Bagikan Artikel: