Di Tengah Reruntuhan, Palestina Rayakan Gelar Juara Dunia Spanyol
Di banyak tempat, juara Piala Dunia dirayakan dengan pesta kembang api, konvoi kendaraan dan lautan manusia di jalanan. Namun di Palestina, perayaan itu hadir dengan cara yang jauh lebih sederhana. Sebuah televisi yang menyala di tengah kamp pengungsian, layar proyektor seadanya di antara puing-puing bangunan atau kerumunan kecil warga yang menonton bersama sambil berharap malam itu langit tetap tenang.

Sumber: AA
Ketika Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026, sorak-sorai terdengar di berbagai penjuru Palestina. Bukan karena mereka warga Spanyol, melainkan karena mereka merasa memiliki ikatan emosional dengan tim tersebut.
Selama beberapa bulan terakhir, Spanyol menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal menyuarakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina serta mengkritik operasi militer Israel di Palestina dan Tepi Barat yang diduduki. Sikap politik itu rupanya ikut membentuk hubungan emosional yang unik antara rakyat Palestina dan tim nasional Spanyol.
Salah satu sosok yang paling dicintai warga Palestina adalah Lamine Yamal. Bintang muda berusia 19 tahun itu sebelumnya sempat membawa bendera Palestina saat merayakan gelar Liga Spanyol bersama Barcelona. Aksi sederhana tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi banyak warga Palestina yang selama ini merasa suara mereka jarang mendapat tempat di panggung internasional.
Bagi banyak warga Palestina, kemenangan Spanyol menjadi pengingat bahwa masih ada orang-orang di luar sana yang menunjukkan solidaritas kepada mereka. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez yang membela Yamal ketika sang pemain diserang oleh sejumlah pejabat Israel juga semakin memperkuat kedekatan emosional tersebut.
Meski hidup dalam keterbatasan listrik, internet dan ancaman serangan yang terus menghantui, warga Palestina tetap berusaha mengikuti setiap pertandingan Piala Dunia. Ada yang berkumpul di kafe, ada yang menonton melalui layar proyektor di ruang terbuka, sementara sebagian lainnya hanya bisa menyaksikan lewat ponsel dengan koneksi yang tak selalu stabil.
Sedihnya, bahkan momen kebersamaan itu pun tak sepenuhnya aman. Dilansir The Guardian, seorang pekerja bantuan yang sebelumnya membantu menyelenggarakan nonton bareng pertandingan dilaporkan tewas akibat serangan udara beberapa hari sebelum final berlangsung. Sekalipun sukacita terjadi di setiap penjuru dunia, bagi warga Palestina ancaman serangan tetap tidak pernah benar-benar pergi.
Di situlah makna kemenangan Spanyol terasa berbeda. Selama sekitar dua jam pertandingan berlangsung, sepak bola memberikan sesuatu yang sudah lama dirampas dari banyak warga Palestina, yakni kesempatan untuk melupakan ketakutan, berkumpul bersama keluarga, dan merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat.
Di tengah reruntuhan, sorak kemenangan itu mungkin terdengar kecil dibanding gemuruh stadion di New Jersey. Tetapi bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayang perang, malam ketika Spanyol menjadi juara dunia adalah malam ketika harapan, solidaritas dan rasa kemanusiaan kembali terasa hidup.