Memuat tanggal...
Logo
Halftime Show hingga Trump Ikut Naik Podium, Begini Amerika Merusak Aura Final Piala Dunia
Sport 20 July 2026, 19:50 WIB Shaddam Putra

Halftime Show hingga Trump Ikut Naik Podium, Begini Amerika Merusak Aura Final Piala Dunia

Final Piala Dunia 2026 seharusnya dikenang sebagai duel bersejarah antara Argentina dan Spanyol. Namun, bagi banyak penggemar sepak bola, pertandingan di MetLife Stadium justru menjadi simbol bagaimana budaya hiburan dan politik Amerika Serikat dianggap mengambil alih panggung yang selama puluhan tahun menjadi milik sepak bola.

Kritik tersebut sebenarnya sudah menumpuk jauh sebelum laga final dimulai. Mulai dari kebijakan visa Amerika Serikat yang menyulitkan sejumlah delegasi dan pendukung dari beberapa negara, kontroversi pembatalan kartu merah striker Amerika Serikat Folarin Balogun setelah Presiden Donald Trump mengaku meminta FIFA meninjau ulang keputusan tersebut, hingga akhirnya memuncak pada rangkaian acara final yang dinilai terlalu ‘Amerika’.

Sumber: Getty

Salah satu perubahan yang paling memancing perdebatan adalah hadirnya pertunjukan halftime ala Super Bowl. Selama hampir satu abad sejarah Piala Dunia, jeda babak pertama hanya berlangsung sekitar 15 menit agar ritme pertandingan tetap terjaga. Namun di final 2026, FIFA memperpanjang jeda demi memberi ruang bagi konser bertabur bintang menjadi sekitar 25 menit.

Madonna, BTS, Shakira, Justin Bieber, Burna Boy, Coldplay hingga karakter Muppets tampil bergantian dalam pertunjukan yang dipenuhi efek visual. Bagi sebagian penonton, pertunjukan tersebut memang spektakuler. Namun bagi banyak pendukung sepak bola tradisional, konser itu terasa seperti dipaksakan masuk ke dalam olahraga yang tidak pernah membutuhkan hiburan tambahan di tengah pertandingan.

Kritik tak hanya berasal dari penggemar biasa. Legenda Inggris Wayne Rooney bahkan melontarkan kritik, menyebut perhelatan tersebut sebagai “sampah.” Komentarnya dengan cepat viral dan menjadi representasi dari sentimen banyak penggemar yang menilai FIFA sedang mengubah Piala Dunia menjadi produk hiburan khas Amerika.

The Guardian juga menyoroti bahwa bahkan sebelum kick-off, penonton sudah disuguhi seremoni pembukaan panjang yang diabaikan sebagian penyiar Eropa karena dianggap tidak relevan dengan pertandingan.

Sumber: Getty

Kontroversi tidak berhenti ketika pertandingan usai. Presiden Donald Trump, yang hadir bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, turun ke lapangan untuk menyerahkan medali dan trofi kepada Spanyol. Namun berbeda dari tradisi sebelumnya, Trump tetap berada di podium saat para pemain mengangkat trofi juara. Momen tersebut langsung memicu reaksi negatif di media sosial. Banyak penggemar mempertanyakan mengapa seorang kepala negara yang bukan bagian dari tim juara tetap berdiri di tengah selebrasi para pemain. Saat namanya diumumkan di stadion, Trump juga terdengar menerima sorakan negatif dari sebagian penonton.

Bagi banyak penggemar internasional, insiden itu menjadi puncak dari serangkaian kontroversi sepanjang turnamen. Sebelumnya, Trump menuai kritik setelah mengaku meminta Gianni Infantino meninjau kartu merah Balogun, yang kemudian dibatalkan FIFA. Walaupun FIFA menyatakan keputusan tersebut diambil melalui mekanisme disipliner, banyak pihak mempertanyakan mengapa seorang presiden dapat terlihat memiliki pengaruh terhadap proses olahraga internasional.

Di luar lapangan, penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat juga dibayangi isu imigrasi. Sejak proses menuju turnamen, sejumlah delegasi menghadapi persoalan visa, sementara pembatasan perjalanan dan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump memicu kekhawatiran bahwa tidak semua pendukung memiliki akses yang sama untuk menghadiri pesta sepak bola terbesar di dunia. FIFA memang memberikan pengecualian bagi pemain dan ofisial, tetapi banyak suporter dari negara-negara tertentu tetap menghadapi hambatan untuk masuk ke Amerika Serikat.

Semua kontroversi tersebut membuat diskusi setelah final tidak hanya berpusat pada kemenangan Spanyol. Banyak pembicaraan justru berkisar pada bagaimana FIFA mengorbankan tradisi sepak bola demi mengikuti formula hiburan dan politik Amerika Serikat.

Bagikan Artikel: