Memuat tanggal...
Logo
Harga Minyak Dunia Stabil Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Ketidakpastian Selat Hormuz Masih Menghantui
Bisnis 17 June 2026, 18:00 WIB Shaddam Putra

Harga Minyak Dunia Stabil Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Ketidakpastian Selat Hormuz Masih Menghantui

Harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah sempat bergejolak akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah Brent pada perdagangan Rabu (17/6/2026) berada di kisaran 78,8 dolar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar 75,9 dolar AS per barel. Angka tersebut relatif tidak banyak berubah dibanding hari sebelumnya, di mana terjadi dua sesi penurunan tajam yang memotong harga hingga sekitar 5 persen.

Sumber: REUTERS

Penurunan harga ini dipicu oleh kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan akhir pekan lalu. Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Menurut laporan dari CNBC, harga minyak anjlok segera setelah muncul kabar bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan perang serta memulihkan arus ekspor energi dari kawasan Teluk Persia. Investor menilai kembalinya pasokan minyak Timur Tengah ke pasar global akan mengurangi risiko kekurangan suplai yang selama beberapa bulan terakhir mendorong harga energi melonjak.

Meski demikian, para pelaku pasar belum sepenuhnya yakin bahwa situasi akan segera kembali normal. Priyanka Sachdeva, pengamat pasar dari perusahaan pertukaran Phillip Nova, berpendapat bahwa jalur terhadap normalisasi arus perdagangan tidak akan sepenuhnya mulus.

Meskipun persetujuan dari sisi politik berjalan lancar, arus lalu lintas kapal melintasi Selat (Hormuz) belum sepenuhnya pulih.

Reuters melaporkan bahwa sejumlah perusahaan pelayaran dan asuransi masih menunggu kepastian mengenai keamanan jalur pelayaran sebelum kembali beroperasi secara normal. Ketidakpastian tersebut membuat investor menahan diri untuk melakukan aksi jual lebih lanjut.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pemulihan produksi dan ekspor minyak dari Timur Tengah dapat menciptakan surplus pasokan global pada 2027. Organisasi tersebut menilai lebih dari 14 juta barel per hari pasokan minyak yang sebelumnya terganggu berpotensi kembali mengalir ke pasar secara bertahap setelah jalur perdagangan dibuka kembali.

Di sisi lain, permintaan global juga menunjukkan tanda-tanda melemah. Aktivitas pengolahan minyak di China dilaporkan menurun pada Mei, mengindikasikan perlambatan konsumsi energi di negara pengimpor minyak terbesar dunia tersebut.

Walaupun pasar menyambut positif kesepakatan damai AS-Iran, para analis menilai ketidakstabilan harga minyak masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Selama lalu lintas kapal belum benar-benar kembali normal dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda, resiko gangguan pasokan tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan investor.

Sumber: Reuters, CNBC

Bagikan Artikel: