Hydration Break di Piala Dunia 2026 Tuai Kritik, Suporter hingga Pemain Pertanyakan Aturan FIFA
Aturan baru FIFA yang mewajibkan dua kali hydration break (istirahat hidrasi) dalam setiap pertandingan Piala Dunia 2026 memicu perdebatan luas di kalangan pemain, pelatih, suporter, hingga pengamat sepak bola.
Kebijakan ini diperkenalkan setelah kekhawatiran mengenai cuaca panas ekstrem di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Setiap pertandingan telah dihentikan selama tiga menit pada pertengahan masing-masing babak agar pemain dapat minum dan mendinginkan tubuh.
Keputusan itu diambil setelah pengalaman pada Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat yang diwarnai suhu tinggi dan kekhawatiran terhadap kesehatan pemain. Menurut FIFA, aturan tersebut diterapkan untuk seluruh pertandingan tanpa memandang suhu atau kondisi cuaca agar semua tim bermain dalam kondisi yang sama.

Sumber: AP
Namun, penerapan hydration break secara memunculkan kritik.
Dalam salah satu pertandingan Piala Dunia antara Inggris melawan Kroasia di Dallas, para penonton terdengar mencemooh ketika pertandingan dihentikan untuk hydration break. Reaksi serupa juga terjadi saat laga Ghana melawan Panama di Toronto, di mana hydration break tetap diterapkan meskipun. hujan turun dan suhu berada di bawah 20 derajat Celsius. Banyak suporter mempertanyakan mengapa pertandingan tetap harus dihentikan ketika kondisi cuaca tidak menunjukkan risiko panas berlebih.
BBC melaporkan bahwa sebagian penggemar menilai jeda tersebut mengubah ritme alami sepak bola dan membuat pertandingan terasa seperti olahraga yang terbagi ke dalam beberapa kuarter. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai penghancur momentum karena memberi kesempatan bagi tim yang sedang tertekan untuk mengatur ulang permainan.
Perdebatan semakin memanas karena hydration break juga dimanfaatkan sejumlah stasiun televisi untuk menayangkan iklan. Di Amerika Serikat, siaran Fox mendapat kritik setelah menampilkan iklan layar penuh selama jeda tersebut dan melewatkan beberapa menit aksi permainan.
Kapten Belanda, Virgil van Dijk, termasuk salah satu pemain yang mempertanyakan kebijakan tersebut. Ia menilai hydration break masuk akal ketika cuaca benar-benar panas, tetapi tidak perlu diterapkan pada semua pertandingan. Menurutnya, jeda tersebut juga memperbesar unsur komersialisasi dalam sepak bola.
Pelatih tim nasional Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, juga mengaku tidak menyukai aturan tersebut jika kondisi cuaca sebenarnya nyaman untuk bermain. Ia berpendapat hydration break seharusnya hanya digunakan dalam situasi ekstrim
Di sisi lain, sejumlah pelatih justru mendukung kebijakan FIFA. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, dan pelatih Prancis, Didier Deschamps, melihat hydration break sebagai kesempatan untuk memberikan instruksi taktik tambahan kepada pemain.
Kalangan medis juga cenderung mendukung keberadaan jeda tersebut. Para ahli kesehatan olahraga menilai cuaca panas dan kelembaban tinggi di beberapa kota tuan rumah dapat meningkatkan risiko heat exhaustion hingga heat stroke. Meski demikian, sejumlah ilmuwan berpendapat tiga menit tidak cukup untuk benar-benar mendinginkan tubuh pemain dan menyarankan durasi lima hingga enam menit agar manfaatnya lebih terasa.
Sumber: BBC, CNN
Artikel Terkait
Isack Hadjar Absen di GP Belanda, Liam Lawson Dapat Kesempatan Kedua di Red Bull
3 weeks ago
Dokumenter Bongkar Sisi Lain Pep Guardiola di Tahun-Tahun Terakhirnya Bersama Man City
3 weeks ago
Russell Westbrook Pensiun dari NBA, Sang Raja Triple-Double Akhirnya Gantung Sepatu
4 weeks ago