Memuat tanggal...
Logo
Ketika Suara Tak Lagi Cukup, Mahasiswa Menjahit Bibir di Tengah Riuh Kunjungan Presiden
News 11 June 2026, 19:01 WIB muhamad riski

Ketika Suara Tak Lagi Cukup, Mahasiswa Menjahit Bibir di Tengah Riuh Kunjungan Presiden

Bagi sebagian masyarakat, aksi tersebut mungkin terlihat ekstrem. Namun bagi generasi muda yang merasa semakin sulit membuat aspirasinya terdengar, jahit bibir menjadi metafora yang kuat: ketika orasi dianggap tak cukup, ketika kritik terasa tenggelam dalam kebisingan politik, tubuh menjadi medium terakhir untuk menyampaikan pesan.

Inilah titik yang paling relevan bagi kelompok anak muda dan mahasiswa hari ini. Mereka hidup di era ketika informasi bergerak begitu cepat, tetapi perhatian publik justru semakin pendek. Ribuan cuitan, unggahan, hingga demonstrasi kerap berlalu tanpa menghasilkan percakapan yang berarti. Dalam konteks itu, aksi simbolik menjadi cara untuk memaksa publik berhenti sejenak dan bertanya: ada apa sebenarnya?

Para demonstran menyuarakan sejumlah isu yang mereka anggap mendesak, mulai dari ketimpangan ekonomi, akses pendidikan yang semakin berat, persoalan lapangan kerja bagi generasi muda, hingga kekhawatiran terhadap menyempitnya ruang sipil. Jahit bibir dipilih sebagai simbol bahwa suara-suara kritis masyarakat dianggap semakin sulit mendapat ruang yang setara.

Sumber: Liputan6.com)

Di sisi lain, aksi ini juga mengingatkan publik pada satu kenyataan yang sering terlupakan: demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa bebas seseorang berbicara, tetapi juga dari seberapa serius suara itu didengar. Sebab problem terbesar bukan ketika rakyat tidak bisa bicara, melainkan ketika mereka sudah berbicara berkali-kali dan tidak merasa ada yang mendengarkan.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan metode yang digunakan, keberanian mereka berdiri di ruang publik dengan risiko dicibir, disalahpahami, bahkan diabaikan, layak dicatat sebagai bagian dari tradisi kritik warga negara. Sebab sejarah menunjukkan, perubahan sering kali tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dari keberanian untuk terus bersuara saat banyak orang memilih diam.

Dan mungkin di situlah ironi yang ingin ditunjukkan para mahasiswa itu: mereka menjahit bibir bukan karena tak punya sesuatu untuk dikatakan, melainkan karena merasa terlalu banyak hal yang sudah dikatakan, namun belum benar-benar didengar.

Sumber Liputan6, Lampos.com

Bagikan Artikel: