Memuat tanggal...
Logo
Preview Piala Dunia: Grup C, Samba Pincang Hadapi Dua Kekuatan Baru
Sport 12 June 2026, 13:00 WIB Shaddam Putra

Preview Piala Dunia: Grup C, Samba Pincang Hadapi Dua Kekuatan Baru

Brasil

Sumber: SIPA USA

Jawara terbanyak Piala Dunia memasuki turnamen ini dengan sebuah krisis. Sejak 2002, lima dari enam kali mereka gagal menembus babak Perempat Final. Satu kalinya, mereka harus dipermalukan oleh Jerman di tanah air sendiri dengan skor 7-1.

Kondisinya semakin parah ketika Brasil mengawali kualifikasi Piala Dunia dengan buruk. Mereka menelan kekalahan dari Kolombia, Paraguay, Uruguay, Bolivia, dan Argentina—yang terakhir paling menyakitkan, karena menjadi kali pertama mereka kalah di rumah pada ronde kualifikasi.

Namun, harapan mulai kembali dengan direkrutnya Carlo Ancelotti sebagai pelatih. Ia menyetir Brasil menuju sisa laga kualifikasi, dan diharapkan bisa membawa Seleccao menembus dinding yang selama ini menghantui mereka.

Brasil diperkuat oleh beberapa pemain bintang di lini depan. Ada Vinicius Jr. dan Rodrygo yang sudah akrab dengan cara bermain Don Carlo dari waktunya di Madrid, ditambah Raphinha yang masih melejit di Barcelona. Lini belakangnya pun tak buruk, diperkuat Gabriel Magalhães—satu dari pasangan bek Arsenal yang merajai Liga Inggris musim ini—dan Marquinhos yang baru saja memenangkan Liga Champions bersama PSG.

Keraguan muncul pada umur skuat yang terbilang tua, terutama pada lini tengah. Tumpuan utama pilihan Ancelotti adalah Casemiro (34 tahun) dan Fabinho (32 tahun), yang diragukan bisa beradu dengan pemain-pemain muda dan energik. Tentunya bicara soal umur, ini adalah Piala Dunia terakhir Neymar, dan cidera yang ia alami sebelum turnamen membuat fans berpikir kalau tempatnya seharusnya diberikan kepada pemain lain yang lebih muda.

Player to Watch: Endrick

Sumber: Instagram/Brazil FA

Sempat ditautkan sebagai prospek muda Brasil terhebat setelah Neymar, Endrick membuat banyak orang kecewa setelah gagal meninggalkan kesan di Real Madrid. Namun, musim ini ia bagai lahir kembali—bersinar setelah dipinjamkan pada Lyon dengan 5 gol dan 7 assist dalam 16 pertandingan. Pada Piala Dunia ini, kemungkinan besar kita akan melihat Endrick yang telah dijanjikan sejak ia masih 15 tahun.

Maroko

Sumber: Getty

Perjalanan Maroko adalah salah satu kisah paling menakjubkan pada Piala Dunia Qatar lalu. Mereka menjadi negara asal Afrika pertama yang berhasil mencapai Semi Final, menaklukkan Spanyol dan Portugal sebelum dijatuhkan finalis Prancis. Kali ini, mereka memasuki Piala Dunia bukan sebagai kuda hitam. Berbekal tim yang kuat, mereka memiliki ambisi yang kuat untuk mengulang prestasi tersebut.

Skuat yang dikepalai Mohamed Ouahbi ini sempat didera drama di final AFCON (Piala Afrika), di mana mereka kalah di lapangan kepada Senegal namun tercatat menang karena keputusan federasi. Meski sempat tercoreng kasus tersebut, Maroko tetap menunjukkan dominasi kuat pada turnamen itu—dan pada ronde kualifikasi, memenangkan semua permainan dan hanya membiarkan 2 gol.

Maroko bergerak dengan formasi 4-2-3-1 yang terpaku pada paruh tempat dan serangan pusat, membiarkan pemain bintang mereka Achraf Hakimi bergerak di posisi sayap. Diperkuat pemain-pemain lini tengah yang tangguh dan disiplin, posesi menjadi kunci dari gaya bermain ini.

Menggapai posisi yang sama dengan Piala Dunia lalu adalah target yang realistis mereka gapai, tapi tekanan karena bukan lagi menjadi underdog harus mereka waspadai. Tapi, jangan sampai terkejut kalau mereka bisa memenangkan grup ini—bahkan sampai melebihi capaian mereka dulu.

Player to Watch: Bilal El Khannouss

Sumber: Niya

Gelandang serang ini baru berusia 22 tahun, namun sudah tampil mengesankan di tingkat klub bersama Stuttgart. Mengoleksi 4 gol dan 5 assist di Bundesliga, ia dapat menciptakan keajaiban setiap kali bola ada di kakinya. 

Haiti

Sumber: AFP

Di antara 48 peserta Piala Dunia 2026, mungkin tidak ada kisah yang lebih menyentuh dibanding Haiti. Untuk pertama kalinya sejak 1974, Les Grenadiers kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia setelah menunggu selama 52 tahun. Hal itu kendati berbagai masalah politik dan konflik sipil yang terjadi di dalam negara, yang sampai membuat timnas ini tak bisa bermain dalam tanah air mereka sendiri.

Di bawah arahan pelatih asal Prancis, Sébastien Migné, Haiti menjelma menjadi salah satu kekuatan baru di Amerika Tengah.  Migné bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Haiti sejak ditunjuk sebagai pelatih karena alasan keamanan, tetapi ia berhasil membangun identitas permainan yang jelas dan rasa persatuan yang kuat di dalam tim.

Kekuatan terbesar Haiti terletak pada kerjasama tim. Mereka tak punya satu bintang yang mentereng, namun ada banyak pemain timnas yang berkarier di Eropa dan Amerika Utara. Kapten Johny Placide masih menjadi sosok penting di bawah mistar, Ricardo Adé memimpin pertahanan dengan pengalaman yang melimpah, dan Danley Jean Jacques dan Jean-Ricner Bellegarde menjadi motor di lini tengah. Di lini depan, Duckens Nazon dan Wilson Isidor diharapkan menjadi sumber gol utama.

Masalahnya, Piala Dunia adalah panggung yang belum pernah mereka rasakan selama lebih dari setengah abad. Sebagian besar pemain Haiti belum pernah menghadapi tekanan sebesar ini. Mereka juga tergabung dalam grup yang berat bersama Brasil, Maroko, dan Skotlandia—tiga lawan yang terlewat tangguh untuk mereka. Tetap saja, mencapai titik ini sudah menjadi prestasi besar untuk Haiti.

Player to Watch: Ruben Providence

Sumber: Instagram/Ruben Providence

Ruben Providence mungkin belum dikenal oleh banyak penggemar sepak bola dunia. Pemain sayap berusia 24 tahun itu adalah produk akademi Paris Saint-Germain dan sempat menghabiskan waktu di AS Roma sebelum menemukan performa terbaiknya di Belanda bersama Almere City. Gesit, berani, dan memiliki kreativitas yang sulit ditebak, Providence adalah tipe pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan hanya dengan satu sepakan atau giringan bola. Jika Haiti ingin menciptakan kejutan pada turnamen ini, besar kemungkinan Providence akan jadi tumpuannya.

Skotlandia

Sumber: IMAGO

Tidak ada negara yang datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban sejarah sebesar Skotlandia. Mereka adalah salah satu negara pelopor sepak bola dunia, tetapi sudah 28 tahun tidak tampil di turnamen ini. Penantian panjang itu akhirnya berakhir ketika pasukan Steve Clarke mengalahkan Denmark 4-2 dalam laga play-off yang dramatis, mengirim Tartan Army ke pesta sepak bola terbesar untuk pertama kalinya sejak 1998.

Kebangkitan Skotlandia tidak terjadi secara instan. Ketika Clarke mengambil alih pada 2019, tim nasional berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Namun, perlahan ia membangun fondasi yang kokoh dan mengubah Skotlandia menjadi tim yang sulit dikalahkan.

Skotlandia mengandalkan organisasi permainan yang rapi. Mereka nyaman bermain tanpa mengendalikan bola, bertahan dalam blok yang kompak lalu menyerang dengan cepat melalui sayap.

Kekuatan terbesar mereka terletak pada lini tengah; Scott McTominay gemar menubruk pertahanan lawan dengan gol tak terduga, dan John McGinn menjadi sumber energi dan kreativitas.

Namun, ada keraguan dari skuat mereka yang berkaitan dengan usia, membawa banyak pemain yang terbilang sudah berumur. Terdapat tanda tanya di lini depan juga, di mana mereka belum memiliki penyerang yang benar-benar terbukti bisa menjadi pembeda di tingkat Piala Dunia.

Player to Watch: Ben Doak

Sumber: SNS

Di tengah skuat yang didominasi pemain berpengalaman, Ben Doak hadir sebagai suntikan darah muda untuk Skotlandia. Pemain sayap berusia 20 tahun itu menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki pemain-pemain lain di Skotlandia, yakni kecepatan eksplosif dan kemampuan melewati lawan dalam situasi satu lawan satu. Jika Skotlandia menciptakan kejutan pada Piala Dunia ini, jangan heran jika namanya menjadi salah satu alasan utama.

Bagikan Artikel: