Memuat tanggal...
Logo
Preview Piala Dunia: Grup D, Ajang Pembuktian Tuan Rumah dan Kebangkitan Turki
Sport 12 June 2026, 22:00 WIB Shaddam Putra

Preview Piala Dunia: Grup D, Ajang Pembuktian Tuan Rumah dan Kebangkitan Turki

Amerika Serikat

Sumber: Getty

Tidak ada tim yang memasuki Piala Dunia 2026 dengan tekanan sebesar Amerika Serikat. Sebagai tuan rumah, mereka dituntut membuktikan bahwa perkembangan sepak bola Amerika selama tiga dekade terakhir benar-benar membuahkan hasil. Selain itu, masalah-masalah politik di luar lapangan juga memberikan tekanan tambahan.

Namun, optimisme terhadap tim ini sedang rendah. Di bawah pelatih asal Argentina, Mauricio Pochettino, performa Amerika Serikat sering kali sulit ditebak. Mereka mampu tampil dominan melawan lawan yang selevel atau lebih lemah, tetapi kerap kesulitan ketika menghadapi tim-tim papan atas. Kekalahan telak 5-2 dari Belgia beberapa bulan sebelum turnamen menjadi pengingat bahwa jarak antara Amerika Serikat dan gelar juara dunia masih cukup lebar.

Secara taktik, Pochettino masih terus bereksperimen. Berbeda dengan kebiasaannya di level klub yang identik dengan pressing agresif, Amerika Serikat justru lebih sering bermain dengan gaya mid-block, mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola. Mereka nyaman menggunakan formasi 4-2-3-1 maupun tiga bek, dengan fokus membangun serangan melalui tengah sebelum melebarkan permainan lewat bek sayap. Ketika semuanya berjalan sesuai rencana, Amerika Serikat mampu mendominasi ritme pertandingan. Namun ketika ditekan lawan yang lebih kuat, struktur tersebut masih sering goyah.

Kekuatan terbesar mereka berada di lini tengah dan sayap. Kapten Christian Pulisic tetap menjadi wajah sepak bola Amerika dan pemain yang dinilai paling mampu menciptakan perbedaan. Ia didukung oleh gelandang-gelandang pekerja keras seperti Tyler Adams dan Weston McKennie. Lini belakang dipimpin oleh Chris Richards, yang mulai terlihat nyaman pada posisinya di timnas. Secara kualitas individu, ini mungkin merupakan salah satu skuat Amerika Serikat terbaik yang pernah tampil di Piala Dunia.

Namun, ekspektasi tinggi selalu menjadi pedang bermata dua. Amerika Serikat belum pernah mencapai Perempat Final sejak 2002, dan fans Amerika Serikat akan kecewa apabila mereka gagal memecahkan kebuntuan tersebut.

Dengan grup yang relatif bersahabat bersama Paraguay, Australia, dan Turki, target lolos dari fase grup seharusnya bukan masalah. Tantangan sebenarnya adalah membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar tim yang kompeten dan layak disebut sebagai titik kekuatan sepak bola dunia.

Player to Watch: Folarin Balogun

Sumber: Getty

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat kesulitan menemukan penyerang nomor sembilan yang benar-benar bisa diandalkan, dan Folarin Balogun berpotensi dapat situasi itu. Lulusan akademi Arsenal tersebut memilih membela Amerika Serikat meski juga memenuhi syarat untuk Inggris dan Nigeria. Balogun memiliki kombinasi yang jarang dimiliki striker Amerika; insting pergerakan yang baik, klinis di depan gawang dan kemampuan menciptakan gol dari berbagai situasi. Jika Amerika Serikat ingin melangkah lebih jauh daripada pencapaian babak 16 besar dalam tiga Piala Dunia terakhir mereka, kemungkinan besar Balogun harus menjadi mesin gol yang selama ini mereka cari.

Paraguay

Sumber: Elbotola

Selama lebih dari satu dekade, Paraguay seolah menghilang dari percakapan sepak bola dunia. Negara yang pernah menjadi langganan Piala Dunia pada era 1998 hingga 2010 itu gagal lolos ke tiga edisi berikutnya. Karena itulah, kehadiran La Albirroja untuk pertama kalinya dalam 16 tahun membawa harapan baru, terutama dengan generasi emas yang baru.

Kebangkitan Paraguay tidak lepas dari tangan pelatih asal Argentina, Gustavo Alfaro. Ketika ia ditunjuk pada 2024, Paraguay terjerumus dalam situasi sulit dan terancam kembali gagal lolos kualifikasi. Dengan upayanya, Alfaro berhasil memberikan identitas bermain yang sebelumnya tak dimiliki timnas. Terbukti dalam 16 pertandingan pertama di bawah kepemimpinannya, Paraguay hanya kalah sekali dan sukses mengamankan tiket menuju panggung dunia.

Identitas tersebut mungkin tidak terlalu 'wah', tetapi khas dengan negara Paraguay. Mereka bermain dengan disiplin tinggi, bertahan rapat, dan mengandalkan ketangkasan pemain. Mereka nyaman bermain tanpa bola dalam periode lama, dan sangat berbahaya dalam situasi bola mati.  Gaya bermain tersebut membuat mereka berhasil menahan Brasil dan Uruguay dan mengalahkan juara bertahan Argentina di periode kualifikasi.

Meski identitas bermain Paraguay lebih erat dengan kerja sama tim, mereka juga memiliki bintang-bintang yang bisa bersinar sendiri. Julio Enciso melejit sebagai pusat kreativitas tim dan menjadi pemain yang paling ditakuti lawan. Selain itu, Miguel Almirón masih hadir menawarkan kecepatan dan pengalaman di lini depan. Lini belakang mereka yang kuat dipimpin oleh Omar Alderete dan Gustavo Gómez, yang menjadi fondasi dari pertahanan kokoh Paraguay. Kombinasi pemain muda dan senior ini membuat mereka jauh lebih seimbang dibanding generasi yang gagal lolos ke tiga Piala Dunia sebelumnya.

Namun, keterbatasan Paraguay tetap terlihat ketika mereka dipaksa mengambil inisiatif permainan. Tim ini lebih nyaman bereaksi terhadap lawan ketimbang mendikte jalannya pertandingan, dan seringkali tumpul di sepertiga akhir lapangan.

Di atas kertas, mereka memiliki peluang besar untuk lolos dari grup mereka. Tetapi, jika mereka ingin melangkah lebih jauh, mereka harus menemukan cara untuk mencetak gol dengan lebih konsisten.

Player to Watch: Julio Enciso

Sumber: AFP

Julio Enciso tidak selayaknya pemain-pemain Paraguay biasanya. Ketimbang menjadi bek tangguh atau gelandang pekerja keras, pemain berusia 22 tahun itu adalah penyerang bertalenta yang mengerikan bagi lawan. Lincah, kreatif, dan berani mengambil risiko, Enciso mampu menciptakan peluang dari situasi nol. Banyak serangan Paraguay akan bergantung pada kemampuannya menemukan ruang di antara lini lawan. Satu momen ajaib dari Enciso bisa menjadi penentu dari kans Paraguay untuk berjalan jauh di Piala Dunia ini.

Australia

Sumber: Getty

Australia sudah menjadi langganan Piala Dunia, dengan edisi 2026 ini menjadi penampilan keenam Socceroos secara beruntun sejak 2006. Konsistensi itu membawa sebuah ekspektasi, dan mereka datang dengan ambisi untuk kembali menciptakan kejutan.

Keberhasilan Australia mencapai babak 16 besar di Qatar empat tahun lalu menjadi salah satu kisah paling mengesankan turnamen tersebut. Hanya satu gol yang memisahkan mereka dari extra time, melawan Argentina yang akhirnya keluar sebagai juara dunia. Sejak saat itu, pelatih Tony Popovic melanjutkan pekerjaannya membangun tim yang sulit dikalahkan, meski proses pergantian generasi membuat performa mereka kurang konsisten. Di atas kertas, kualitas individu Australia mungkin tidak setinggi negara-negara elit di dunia bola, tetapi secara menyeluruh mereka adalah tim yang sulit untuk dibuka.

Identitas permainan mereka masih sangat khas Australia. Disiplin, kekuatan fisik dan kerjasama tim menjadi fondasi utama mereka. Popovic biasanya menggunakan sistem tiga bek yang memungkinkan timnya bertahan rapat, sekaligus membuka kesempatan menyerang dengan cepat melalui sayap. Mereka nyaman bermain tanpa bola, dan sangat efektif memanfaatkan ruang yang ditinggalkan lawan. Bola mati juga tetap menjadi senjata penting, sesuatu yang sudah lama menjadi ciri khas Socceroos di turnamen besar.

Umur dan pengalaman masih diandalkan oleh Australia. Kapten Mat Ryan masih menjadi sosok penting di bawah mistar, dan Harry Souttar tetap menjadi jangkar pertahanan sekaligus ancaman pada situasi bola mati. Di lini tengah, Jackson Irvine memberikan kombinasi kerja keras dan kualitas teknis.

Namun, perhatian terbesar tertuju kepada generasi muda yang mulai bermunculan. Australia kini memiliki sejumlah talenta muda yang diharapkan dapat membawa mereka ke level berikutnya. Nestory Irankunda, Mohamed Touré dan Jordan Bos diyakini menjadi sumber ledakan bagi daya serangan balik Australia.

Hal tersebut diharapkan dapat mengobati kelemahan Socceroos selama ini, yakni produktivitas gol. Australia mampu bertahan dengan baik melawan lawan yang lebih kuat, tetapi selalu kesulitan mengubah peluang menjadi gol.

Mereka memiliki peluang realistis untuk lolos ke fase 32 besar. Tetapi untuk melangkah lebih jauh dari itu, Australia membutuhkan seseorang yang mampu menjadi pembeda.

Player to Watch: Nestory Irankunda

Sumber: EPA

Nestory Irankunda adalah prospek muda terbesar yang pernah dilahirkan Australia. Penyerang sayap berusia 20 tahun itu dikenal karena kecepatannya yang luar biasa, keberaniannya dalam duel satu lawan satu, dan kemampuannya mencetak gol dari jarak yang sangat jauh. Setelah mencuri perhatian di Liga Australia dan melanjutkan perkembangannya di Eropa, Irankunda dipandang sebagai wajah bagi masa depan sepak bola Australia.

Turki

Sumber: Instagram/lumecorehq

Meski selalu diyakini sebagai negara yang dapat melahirkan bintang, Turki harus berpuasa selam 24 tahun dari kualifikasi Piala Dunia. Namun di bawah asuhan Vincenzo Montella, Ay-Yıldızlılar akhirnya kembali ke Piala Dunia dan datang dengan keyakinan bahwa mereka bisa meninggalkan jejak yang signifikan.

Montella berhasil melakukan sesuatu yang sering gagal dilakukan pelatih-pelatih sebelumnya,  yakni menyatukan ruang ganti yang selama bertahun-tahun identik dengan drama dan perpecahan. Turki hanya kalah sekali sepanjang kualifikasi; dari Spanyol, yang berstatus juara Eropa. Mereka melewati Romania dan Kosovo di babak play-off untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia.

Pusat tim ini terletak pada dua talenta mega bintang. Pertama adalah Arda Güler, satu dari sedikit pemain Real Madrid yang bersinar terang di tengah-tengah kemuraman klub tetsebut. Lalu, ada Kenan Yıldız yang menjelma sebagai salah satu penyerang muda paling menjanjikan di Eropa bersama Juventus. Di belakang mereka, masih ada sosok berpengalaman seperti Hakan Çalhanoğlu yang kini berperan sebagai pengatur tempo permainan dari lini tengah. Dengan tambahan pemain seperti Ferdi Kadıoğlu, Orkun Kökçü dan Barış Alper Yılmaz, Turki memiliki kombinasi teknik, kreativitas, dan energi yang membuat mereka sangat berbahaya saat menyerang.

Secara taktik, Montella biasanya menggunakan formasi 4-2-3-1 yang menitikberatkan penguasaan bola dan pergerakan dinamis di lini depan. Fokus terhadap serangan ini adalah upaya menutup kelemahan mereka di lini belakang. Duet Merih Demiral dan Abdülkerim Bardakcı memang berpengalaman, tetapi belum selalu meyakinkan ketika menghadapi serangan balik cepat atau situasi bola mati. Selain itu, mereka kekurangan kualitas di posisi striker murni—Kerem Aktürkoğlu menjadi nama yang biasanya hadir, namun ia jauh dari kata konsisten.

Banyak yang menilai bahwa Turki memiliki kualitas untuk meraih posisi juara grup. Lebih dari itu, mereka harus mulai bisa menghapus ekspektasi kuda hitam dan menjadi tim yang benar-benar bisa mendominasi.

Player to Watch: Kenan Yıldız

Sumber: AFP

Arda Güler mungkin menjadi wajah utama sepak bola Turki, tetapi Kenan Yıldız bisa jadi pemain yang menentukan nasib mereka di Piala Dunia ini. Penyerang Juventus itu memiliki teknik yang handal, fisik yang tangguh, dan mental baja dalam menghadapi bek lawan secara langsung. Setelah mencatatkan 11 gol dan 10 assist di level klub musim lalu, Yıldız datang ke turnamen ini dengan momentum yang sempurna. Ketika sorotan banyak orang terarah ke Güler, Yıldız dapat bermain tanpa tekanan dan mencapai performa terbaiknya.

Bagikan Artikel: