Studi Ungkap Dampak Kerja dari Rumah: WFH Tingkatkan Resiko Kesepian dan Gangguan Mental
Selama beberapa tahun terakhir, bekerja dari rumah telah berubah dari solusi darurat saat pandemi menjadi gaya hidup baru bagi jutaan pekerja. Tidak perlu menghadapi kemacetan, biaya transportasi lebih rendah, dan fleksibilitas waktu yang lebih besar membuat sistem kerja jarak jauh menjadi pilihan favorit banyak orang.

Sumber: Unsplash
Namun, sebuah penelitian besar yang terbit di jurnal Science pada Juni 2026 mengungkap sisi lain dari tren tersebut. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja dari rumah, semakin besar pula resiko seseorang mengalami isolasi sosial dan gangguan kesehatan mental.
Penelitian yang dipimpin ekonom Federal Reserve Bank of New York, Natalia Emanuel, menemukan bahwa pekerja di profesi yang memungkinkan kerja jarak jauh menghabiskan jauh lebih banyak waktu sendirian dibanding pekerja yang harus hadir secara fisik di tempat kerja. Bahkan setelah pandemi berakhir, pola tersebut tetap bertahan.
Studi tersebut menggunakan data dari lima survei nasional Amerika Serikat yang melibatkan lebih dari 588.000 responden selama periode 2011 hingga 2024. Para peneliti membandingkan kondisi pekerja pada profesi yang bisa dilakukan dari rumah—seperti pemasaran, administrasi, dan teknologi informasi—dengan profesi yang menuntut kehadiran fisik seperti perawat, teknisi, dan pekerja jasa.
Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan kerja jarak jauh berhubungan dengan bertambahnya waktu yang dihabiskan sendirian, meningkatnya gejala kecemasan dan depresi, lebih banyak kunjungan ke layanan kesehatan mental, dan peningkatan penggunaan obat antidepresan dan obat psikis lainnya.
Para peneliti memperkirakan lonjakan kerja jarak jauh sejak pandemi menjelaskan sekitar sepertiga peningkatan rasa kesepian dan tekanan psikologis yang terjadi antara periode sebelum pandemi dan sesudahnya.
Dampak terbesar ditemukan pada pekerja yang tinggal sendirian. Kelompok ini mengalami peningkatan drastis dalam kemungkinan menjalani satu hari penuh tanpa kontak manusia sama sekali. Melansir NPR, pekerja jarak jauh mengalami kenaikan 58 persen dalam waktu yang dihabiskan sendirian dan 72 persen peningkatan kemungkinan menjalani hari tanpa interaksi manusia.
Para peneliti menemukan bahwa banyak pekerja tidak mengganti hilangnya interaksi kantor dengan aktivitas sosial setelah jam kerja. Dengan kata lain, kesendirian yang muncul selama bekerja sering kali berlanjut hingga malam hari.
Menariknya, temuan ini muncul di tengah fakta bahwa mayoritas pekerja masih sangat menyukai sistem kerja jarak jauh.
Berbagai survei sebelumnya menunjukkan banyak pekerja bersedia menerima pemotongan gaji antara 4 hingga 10 persen demi mempertahankan fleksibilitas bekerja dari rumah. Produktivitas juga sering kali meningkat karena pekerja memiliki lebih sedikit gangguan dan tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk perjalanan pulang-pergi.
Peneliti Emma Harrington, salah satu penulis studi tersebut, mengaku dirinya sendiri merasakan pengalaman serupa selama masa kerja jarak jauh pasca pandemi. Ia tetap produktif, tetapi merasa kehilangan kontak sosial sehari-hari yang sebelumnya hadir secara alami di lingkungan kerja.
Para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini tidak berarti semua perusahaan harus memaksa karyawannya kembali ke kantor penuh waktu. Pesan utama penelitian tersebut adalah pentingnya menyadari bahwa interaksi sosial memiliki nilai kesehatan yang nyata dan sering kali hilang tanpa disadari dalam sistem kerja jarak jauh.
Sejumlah akademisi juga menilai model kerja hybrid dapat menjadi jalan tengah. Kehadiran fisik beberapa hari dalam seminggu memungkinkan terciptanya interaksi spontan yang sulit digantikan oleh panggilan video, sementara fleksibilitas kerja dari rumah tetap dipertahankan.
Artikel Terkait
Konser Raisa Love & Let Go 2026 Berlangsung Meriah, Ribuan Penonton Padati JCC Senayan
3 days ago
Momenta Festival Bandung 2026, Hadirkan Ruang Refleksi dan Hiburan Untuk Rakyat
3 days ago
Konser EXO Hari Kedua di Jakarta Jadi Ujian Akses Mobilitas dan Antusiasme Penggemar yang Membludak
3 days ago