Memuat tanggal...
Logo
Terlalu Mengandalkan Modal Asing, IMF Minta Indonesia Mulai Lepas dari “Duit Panas”
Bisnis 08 August 2026, 21:42 WIB Shaddam Putra

Terlalu Mengandalkan Modal Asing, IMF Minta Indonesia Mulai Lepas dari “Duit Panas”

Indonesia kembali mendapat catatan dari Dana Moneter Internasional (IMF). Kali ini bukan soal pertumbuhan ekonomi atau utang pemerintah, melainkan soal kebiasaan Indonesia mengandalkan aliran modal asing jangka pendek alias “duit panas”.

IMF menilai ketergantungan terhadap investasi portofolio membuat perekonomian Indonesia lebih rentan terhadap gejolak global. Pasalnya, dana jenis ini bisa masuk dengan cepat ketika investor melihat peluang, tetapi juga bisa keluar dengan cepat ketika kondisi pasar berubah.

Masalahnya, modal asing seperti ini memang menggiurkan. Ketika investor asing ramai-ramai membeli saham atau surat utang Indonesia, pasar keuangan mendapat tambahan likuiditas. Nilai tukar rupiah juga bisa ikut terbantu dan kebutuhan pembiayaan pemerintah maupun korporasi menjadi lebih mudah dipenuhi.

Namun, ada sisi lain yang tidak kalah penting: Indonesia tidak sepenuhnya memegang kendali atas uang tersebut.

Ketika sentimen investor global berubah, modal yang sebelumnya masuk bisa mendadak berbalik arah. Investor bisa memilih menarik dananya untuk dipindahkan ke aset yang dianggap lebih aman atau lebih menguntungkan. Jika terjadi dalam jumlah besar, tekanan terhadap pasar keuangan dan rupiah bisa ikut meningkat.

Di sinilah peringatan IMF menjadi relevan. Indonesia memang membutuhkan modal asing untuk mendukung perekonomian, tetapi terlalu nyaman dengan modal portofolio bisa menjadi masalah tersendiri.

Sederhananya, jangan sampai ekonomi Indonesia seperti orang yang terbiasa hidup dari uang pinjaman teman. Selama uangnya mengalir, semuanya terasa aman. Tetapi begitu si pemberi pinjaman membutuhkan uangnya kembali, barulah masalah muncul.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat investor asing terus datang. Indonesia juga perlu memperbesar sumber pertumbuhan dari dalam negeri dan menarik investasi yang lebih bersifat jangka panjang.

Investasi langsung atau pembangunan sektor riil, misalnya, biasanya membawa sesuatu yang lebih konkret: pabrik, lapangan kerja, teknologi, rantai pasok, hingga aktivitas ekonomi baru. Berbeda dengan modal portofolio yang pada dasarnya lebih mudah berpindah mengikuti kondisi pasar.

Catatan IMF ini juga menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Ekonomi bisa terlihat baik-baik saja ketika modal asing mengalir deras, tetapi tetap menyimpan kerentanan jika sumber dana tersebut terlalu mudah keluar.

Indonesia sendiri selama ini berusaha menjaga daya tarik pasar keuangannya di tengah persaingan global. Namun, pekerjaan rumahnya jelas bukan hanya mendatangkan uang sebanyak-banyaknya.

Yang lebih penting adalah memastikan uang yang masuk benar-benar membantu memperkuat fondasi ekonomi.

Bagikan Artikel: