Trump: Amerika Serikat Harus Dibayar Jika Amankan Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya mengambil alih pengamanan Selat Hormuz dan mendapatkan bayaran dari negara-negara sekutu atas peran tersebut.

Sumber: Doug Mills/The New York Times
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (12/7/2026) waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mengganggu jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia.
Trump mengatakan Amerika Serikat selama ini bertindak layaknya malaikat pelindung bagi jalur perdagangan energi dunia. Menurutnya, jika AS harus mengerahkan kekuatan militer untuk menjaga Selat Hormuz tetap aman, maka negara-negara yang menikmati manfaatnya seharusnya ikut menanggung biayanya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Karena perannya yang sangat vital, setiap gangguan di kawasan ini hampir selalu memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan kembali memanas setelah Iran membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Amerika Serikat menuduh Iran menghambat pelayaran internasional, sementara Iran menilai langkah tersebut merupakan respons terhadap aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan.
Situasi semakin memburuk setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada akhir pekan. Iran juga menuntut Amerika Serikat menghentikan operasi militernya di sekitar Selat Hormuz jika ingin aktivitas pelayaran kembali normal.
Di sisi lain, Amerika Serikat menegaskan Iran harus menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang serta menjamin seluruh jalur pelayaran dibuka tanpa pungutan biaya apa pun. Konflik tersebut mengancam kesepakatan sementara yang sebelumnya sempat dicapai kedua negara untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan selama 60 hari. Namun, memburuknya situasi membuat proses diplomasi kembali berada di ujung tanduk.
Dalam wawancaranya, Trump menegaskan bahwa negara-negara sekutu Amerika, khususnya yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, seharusnya ikut membayar biaya operasi pengamanan tersebut. Menurutnya, tidak adil apabila Amerika Serikat terus mengeluarkan biaya besar untuk menjaga stabilitas jalur perdagangan dunia sementara negara lain menikmati manfaatnya tanpa kontribusi yang sebanding. Gagasan itu sejalan dengan pendekatan Trump selama ini yang kerap meminta sekutu Amerika Serikat berbagi beban pertahanan, termasuk dalam pendanaan NATO maupun operasi keamanan internasional.
Ketegangan terbaru membuat pasar energi kembali gelisah. Meski sejumlah kapal masih berhasil melintasi Selat Hormuz, volume lalu lintas kapal dilaporkan menurun tajam dibandingkan kondisi normal.
Harga minyak pun kembali menguat karena investor khawatir gangguan berkepanjangan dapat menghambat distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara, terutama di Asia yang menjadi konsumen terbesar minyak Timur Tengah.
Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa Amerika Serikat maupun Iran akan melunak. Dengan negosiasi yang masih berjalan di tengah aksi saling serang, masa depan salah satu jalur energi terpenting di dunia tersebut masih dipenuhi ketidakpastian.
Artikel Terkait
Kritik Kembali Dibalas Label: Prabowo Sebut Jurnalis dan Pengkritik Sebagai "Londo Ireng"
2 days ago
Trump Restui Program Nuklir Arab Saudi, AS Dikritik Terapkan Standar Ganda terhadap Iran
3 days ago
Zohran Mamdani Sebut Netanyahu Penjahat Perang, Desak Pemerintah AS Lakukan Penangkapan
4 days ago