Trump Umumkan Berakhirnya Gencatan Senjata dengan Iran di Tengah KTT NATO
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara pada Selasa (8/7/2026) waktu setempat.

Sumber: REUTERS/Yves Herman
Dalam kesempatan itu, Trump juga melontarkan kritik keras kepada sejumlah sekutu Eropa yang dinilai tidak memberikan dukungan memadai terhadap operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia mengatakan tidak lagi percaya bahwa jalur diplomasi dengan Iran akan menghasilkan kemajuan.
Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran membuang-buang waktu dan menyatakan bahwa mereka tidak bisa dipercaya. Menurutnya, peluang untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata praktis sudah tidak ada lagi.
Kesepakatan penghentian konflik sebelumnya dimediasi oleh Pakistan dan memberikan masa jeda selama 60 hari agar kedua pihak dapat melakukan negosiasi menuju penyelesaian permanen. Namun, perundingan tidak langsung yang berlangsung di Qatar gagal mencapai titik temu. Situasi semakin memburuk setelah terjadi serangan terhadap tiga kapal tanker komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu nadi utama perdagangan minyak dunia.
Amerika Serikat menuduh Iran berada di balik insiden tersebut, mereka merespons dengan melancarkan serangan militer baru terhadap puluhan sasaran di wilayah Iran. Pemerintah AS juga mencabut izin sementara yang sebelumnya masih memperbolehkan ekspor minyak dan petrokimia Iran hingga Agustus.
Selain membahas Iran, Trump memanfaatkan forum NATO untuk mengkritik sejumlah negara Eropa. Ia menilai banyak anggota aliansi yang tidak ikut menanggung beban operasi militer Amerika Serikat. Trump kembali menyinggung komitmen belanja pertahanan anggota NATO. Ia secara khusus mengkritik Spanyol karena belum memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Trump bahkan mengancam akan menghentikan hubungan dagang dengan negara tersebut apabila tetap menolak meningkatkan anggaran militernya.
Meski suasana pertemuan diwarnai pernyataan keras Trump, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berusaha menjaga kekompakan aliansi.
Rutte menyatakan bahwa serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran merupakan langkah yang "benar-benar diperlukan" sebagai respons atas ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Ia juga kembali mendorong negara-negara Eropa dan Kanada untuk meningkatkan belanja pertahanan agar lebih seimbang dengan kontribusi Amerika Serikat.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah langsung mempengaruhi pasar global. Kekhawatiran bahwa konflik akan kembali mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah naik tajam. Laporan sejumlah media internasional menunjukkan harga minyak Brent melonjak mendekati 79 dolar AS per barel setelah Trump mengumumkan berakhirnya gencatan senjata. Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan karena investor mengantisipasi risiko geopolitik yang lebih besar serta potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan ini setiap hari, sehingga setiap gangguan keamanan di wilayah tersebut hampir selalu berdampak pada harga energi global.
Karena perannya yang sangat vital, setiap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz biasanya memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak internasional dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Artikel Terkait
Hubungan Israel-Inggris Makin Panas, Netanyahu Lempar Sindiran Kontroversial
3 weeks ago
Dana Umrah Rp94 Miliar Diduga Raib, Kepercayaan Calon Jemaah Kembali Diuji Setelah Tersangka Baru Muncul
1 month ago
Prabowo Sebut Iran Punya Senjata Nuklir, Indonesia Terancam Bayar Mahal di Meja Diplomasi
1 month ago