Gempa NTT: Menhan Bawa 20 Ton Bantuan dan Minta TNI Maksimalkan Penanganan
Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) masih menyisakan pekerjaan besar. Di tengah warga yang harus bertahan di pengungsian, pemerintah terus mengirim bantuan sekaligus memperkuat penanganan di wilayah terdampak.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengoordinasikan pengiriman sekitar 20 ton bantuan logistik dan peralatan darurat ke NTT. Bantuan tersebut diterbangkan menggunakan pesawat angkut militer A400M yang sebelumnya ikut dalam parade udara HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Isinya cukup beragam, mulai dari 25 tenda, 484 tempat tidur lipat, 15 perangkat internet satelit Starlink, 700 paket makanan siap saji, 500 kotak susu cair, hingga 1.480 selimut. Ada pula kasur, kelambu, obat-obatan, alat pemurni air, panel surya, makanan bayi, popok anak, dan pembalut.
Sjafrie juga ikut menuju NTT untuk melihat langsung kondisi warga terdampak. Ia mengunjungi sejumlah wilayah dan meminta personel TNI membantu proses evakuasi sekaligus pemulihan pasca gempa secara maksimal.
Distribusi menjadi tantangan tersendiri karena warga terdampak tersebar di berbagai lokasi, termasuk wilayah yang sulit dijangkau. Hal itu pula yang menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Ia meminta Pemerintah Provinsi NTT segera membentuk satuan tugas penanganan bencana agar koordinasi bantuan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menurut Pratikno, satuan tugas tersebut dibutuhkan untuk memetakan kebutuhan korban, mengonsolidasikan bantuan dari pemerintah pusat, dan memastikan logistik bisa sampai ke daerah yang aksesnya sulit. Pemerintah pusat juga tetap akan mendukung pemerintah daerah selama masa tanggap darurat.
Desakan memperkuat koordinasi ini cukup masuk akal. Sampai Senin (17/8), BNPB mencatat sedikitnya 68 orang meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka akibat gempa yang mengguncang sejumlah wilayah di Flores. Korban tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Ngada. Dengan kondisi seperti ini, bantuan 20 ton tentu penting, tetapi kecepatan dan ketepatan distribusinya jauh lebih penting. Bagi warga yang sedang berada di pengungsian, tenda, makanan, air bersih, obat-obatan, hingga akses komunikasi bukan sekadar angka dalam daftar bantuan. Semuanya adalah kebutuhan yang harus benar-benar sampai ke tangan mereka.
Artikel Terkait
Menteri HAM Desak Badan Gizi Nasional Beri Pemulihan Korban Keracunan MBG
15 hours ago
Tak Lagi Bergantung ke Luar Negeri? Indonesia Mulai Bangun Kemandirian Perawatan Alutsista
3 weeks ago
Bukan Rp700 Ribu, Realitas Upah Pengupas Bawang di Bogor Justru Jauh di Bawah Klaim Prabowo
3 weeks ago