Jadon Sancho Tinggalkan Manchester United, Akhiri Lima Tahun Yang Mengecewakan
Setelah saga yang berlangsung selama lima tahun, Manchester United akhirnya mengumumkan kepergian pemain sayap asal Inggris, Jadon Sancho. Klub mengumumkan bahwa kontrak Sancho tidak akan diperpanjang, sehingga ia meninggalkan United tanpa biaya sepeserpun pada bursa transfer musim panas 2026.

Sumber: Aston Villa
Sancho didatangkan dari Borussia Dortmund pada 2021 dengan nilai transfer sekitar £75 juta setelah United mengejarnya selama beberapa tahun. Kala itu, ia dipandang sebagai salah satu talenta muda terbaik dunia setelah mencatatkan performa luar biasa di Bundesliga, dengan catatan performa yang menakjubkan bersama Dortmund. Banyak pendukung United yang mengharapkan kedatangannya sebagai solusi jangka panjang terhadap permasalahan daya serang klub yang selalu terasa tumpul.
Namun, harapan tersebut tak pernah tercapai. Dalam lima tahun terikat kontrak dengan United, Sancho hanya mencatat 83 penampilan dan mencetak 12 gol.
Selain gagal mendapatkan konsistensi, Sancho juga terjerat dalam permasalahan di luar lapangan. Hubungannya dengan pelatih saat itu, Erik ten Hag, memburuk setelah perselisihan pada 2023 yang membuatnya tersingkir dari skuad utama.
Sejak saat itu, karir Sancho di Old Trafford bisa dikatakan berakhir. Ia sempat dipinjamkan kembali ke Dortmund pada paruh kedua musim 2023/24, lalu menjalani masa pinjaman di Chelsea dan Aston Villa pada dua musim berikutnya. Meski mampu menunjukkan bayang-bayang dari potensinya, tidak ada klub yang bersedia menawarkan kontrak permanen padanya. Akhirnya, United pun memilih untuk melepasnya secara gratis begitu kontraknya berakhir.
Sancho hanyalah salah satu dari serangkaian perekrutan mahal yang gagal memenuhi ekspektasi di United.
Antony menjadi contoh yang paling sering dibandingkan dengan Sancho. Pada 2022, Manchester United membayar sekitar £85 juta kepada AFC Ajax untuk mendatangkan pemain asal Brasil tersebut. Akan tetapi, performanya tidak pernah mendekati harga yang dibayarkan. Ia tumpul di depan gawang, tak bisa memberi dampak signifikan dalam pertandingan besar, dan akhirnya menjadi olok-olokan dari fans rival United.
Kasus lain adalah kiper Kamerun, André Onana. Setelah tampil mengesankan bersama Inter Milan hingga mencapai final Liga Champions, Onana direkrut untuk menggantikan David de Gea—yang notabene memenangkan Golden Glove satu musim sebelumnya. Ia diharapkan akan menjadi penjaga gawang modern yang mampu membantu serangan dari belakang. Namun serangkaian kesalahan individu dan kurangnya konsistensi performa di bawah ekspektasi publik.
Kemudian ada pula Rasmus Højlund. Saat direkrut dari Atalanta dengan nilai yang bisa mencapai lebih dari £70 juta, striker asal Denmark itu terpaksa memanggul beban besar sebagai sumber gol utama United—sekalipun usianya masih 22 tahun saat itu, dan profil bermainnya tidak sesuai dengan Liga Inggris. Ketika gol-gol yang diharapkan tidak kunjung datang secara konsisten, Højlund menjadi bulan-bulanan kritik yang sebenarnya lebih mencerminkan buruknya perencanaan skuad klub ketimbang kualitas pemain itu sendiri. United akhirnya melepasnya ke Napoli dengan harga yang jauh lebih rendah.
Masih banyak lagi daftar transfer United yang terbilang gagal. Ángel Di María, Alexis Sánchez, Romelu Lukaku, hingga Paul Pogba pernah datang dengan ekspektasi besar namun gagal membawa United kembali ke puncak sepak bola Inggris dan Eropa.
Dari semua nama tersebut, Sancho dilingkari oleh penggemar United sebagai simbol terbesar kegagalan perekrutan klub. Banyak pendukung United memasukan namanya sebagai kandidat utama transfer terburuk klub dalam era pasca Sir Alex Ferguson.
Kepergian Sancho seharusnya menjadi pengingat bagi Manchester United bahwa masalah yang mereka alami tidak hanya terletak pada pemain yang direkrut, melainkan juga proses perekrutannya. Terlalu sering klub membeli pemain berdasarkan kebutuhan jangka pendek, permintaan manajer tertentu, atau momentum pasar, tanpa mempertimbangkan apakah pemain tersebut benar-benar cocok dengan struktur tim dalam jangka panjang.
Sumber: The Athletic, BBC