Penambang Bitcoin Senior Prediksi BTC Bisa Jatuh ke US$44.000, Ini Alasannya
Seorang penambang (miner) Bitcoin senior asal China, Jiang Zhuoer, memprediksi harga Bitcoin masih berpotensi turun sekitar 30% hingga berada di kisaran 42.000-44.000 dolar AS (sekitar Rp690-720 juta, kurs Rp16.400 per dolar AS) sebelum akhirnya menemukan titik terendah pada kuartal IV 2026. Prediksi tersebut disampaikan dalam laporan yang dimuat CoinDesk.

Sumber: REUTERS
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 60.000 dolar AS, sehingga jika prediksi tersebut benar terjadi, harga aset kripto terbesar di dunia itu masih memiliki ruang penurunan yang cukup besar.
Menariknya, Jiang tidak hanya melihat pergerakan harga Bitcoin. Ia menggunakan indikator yang berkaitan dengan Strategy, perusahaan publik yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Jiang memperhatikan rasio market Net Asset Value (mNAV) Strategy, yaitu perbandingan antara harga saham perusahaan dengan nilai Bitcoin yang dimilikinya. Menurutnya, rasio tersebut kini turun ke sekitar 0,72, level yang sangat mirip dengan fase akhir pasar bearish pada 2022.
Berdasarkan pola historis, kondisi seperti ini biasanya terjadi sekitar enam bulan sebelum Bitcoin mencapai titik terendahnya. Karena itu, ia memperkirakan harga Bitcoin baru akan benar-benar menyentuh dasar pada akhir tahun ini.
Selain itu, Jiang juga menggunakan model siklus empat tahunan Bitcoin. Menurutnya, setiap siklus baru memiliki volatilitas yang semakin kecil, sehingga penurunan kali ini diperkirakan tidak sedalam siklus-siklus sebelumnya.
Meski demikian, tidak semua pengamat percaya Bitcoin akan jatuh hingga 44.000 dolar AS.
Sejumlah analis menilai penurunan ke kisaran 40.000 dolar AS akan menjadi kejadian yang sangat jarang terjadi jika melihat data historis. Mereka berpendapat bahwa meski koreksi masih mungkin berlanjut, penurunan sedalam itu akan menjadi salah satu penyimpangan terbesar dalam sejarah pergerakan Bitcoin
Harga Bitcoin sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, sentimen investor, hingga arus dana institusi. Karena itu, satu prediksi—meskipun berasal dari pelaku industri yang berpengalaman—tidak bisa dijadikan acuan tunggal dalam mengambil keputusan investasi.
Bagi investor jangka panjang, fase penurunan harga sering dianggap sebagai periode akumulasi. Namun bagi trader jangka pendek, volatilitas tinggi seperti saat ini juga berarti risiko kerugian menjadi lebih besar jika tidak disertai manajemen risiko yang baik.