Memuat tanggal...
Logo
Rencana FIFA Jual Saham Bisnis Piala Dunia Buka Babak Baru Konflik dengan UEFA
Sport 29 July 2026, 14:13 WIB Shaddam Putra

Rencana FIFA Jual Saham Bisnis Piala Dunia Buka Babak Baru Konflik dengan UEFA

FIFA membuka pintu bagi investor swasta untuk ikut memiliki sebagian bisnis yang mengelola Piala Dunia dengan menjual sebagian kepemilikan atas entitas komersial baru yang akan mengelola seluruh mesin uang FIFA.

Sumber: Charly Triballeau/AFP

FIFA mengumumkan rencana membentuk anak usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi sekitar US$20 miliar. FIFA akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas, tetapi sekitar 20 persen sahamnya akan ditawarkan kepada investor eksternal. Langkah tersebut diperkirakan dapat mengumpulkan dana sekitar US$4,2 miliar. Menurut FIFA, dana itu akan digunakan untuk memperluas pembangunan sepak bola di seluruh dunia melalui federasi-federasi anggotanya.

Nantinya investor tidak akan memiliki kewenangan mengatur pertandingan, menentukan aturan,  maupun mengintervensi kebijakan organisasi. Mereka hanya berinvestasi pada sisi bisnis dan komersial turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.

Penentangan dari UEFA

UEFA menjadi pihak yang paling keras menentang gagasan tersebut. Dalam pernyataannya, konfederasi sepak bola Eropa menegaskan bahwa sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual. Mereka juga menyebut proposal tersebut telah mengorbankan jiwa dari sepak bola demi keuntungan finansial dan dilakukan tanpa transparansi yang memadai.

UEFA sejak lama menilai FIFA terlalu agresif memperbesar skala bisnis sepak bola internasional. Mulai dari memperluas Piala Dunia menjadi 48 negara peserta, memperbesar Piala Dunia Antarklub menjadi 32 tim hingga menambah kalender pertandingan yang dianggap semakin membebani pemain dan klub. UEFA khawatir sepak bola semakin diarahkan oleh kepentingan komersial dibanding keseimbangan kompetisi.

FIFA sendiri berargumen bahwa sepak bola tidak boleh terus didominasi oleh Eropa. Dengan pemasukan yang lebih besar, FIFA mengklaim bisa menyalurkan lebih banyak dana pembangunan kepada lebih dari 200 asosiasi sepak bola di seluruh dunia sehingga negara-negara berkembang memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan.

Walaupun FIFA menegaskan investor tidak memiliki hak mengatur pertandingan, investor tentu mengharapkan nilai investasinya terus bertambah. Dalam dunia bisnis, cara paling mudah meningkatkan valuasi adalah memperbesar pendapatan. Itu bisa berarti lebih banyak pertandingan, lebih banyak turnamen, lebih banyak sponsor, dan lebih banyak hak siar. Kekhawatiran inilah yang selama ini menjadi inti kritik UEFA.

Banyak pihak melihat tren beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang sama. Jumlah pertandingan terus bertambah, kalender semakin padat, dan pemain semakin sering mengeluhkan kelelahan akibat minimnya waktu istirahat. Di sisi lain, pemasukan FIFA terus meningkat seiring bertambahnya skala turnamen internasional.

Kontroversi ini juga mengingatkan publik pada gagasan investasi serupa yang pernah muncul pada 2018. Saat itu FIFA sempat mempertimbangkan kerja sama investasi miliaran dolar untuk kompetisi internasional, tetapi mendapat penolakan keras dari UEFA dan akhirnya tidak berlanjut. Kini, dengan konsep baru dan struktur perusahaan yang berbeda, gagasan tersebut kembali muncul dalam skala yang lebih besar.

Banyak yang menganggap bahwa konflik ini adalah persaingan antara kendali sepakbola dunia. UEFA menguasai kompetisi antarklub paling menguntungkan di dunia, dan FIFA ingin memperbesar pengaruh melalui Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Semakin besar nilai ekonomi turnamen FIFA, semakin besar pula posisi tawar organisasi tersebut di hadapan klub, sponsor, hingga penyiar. Dengan kata lain, yang sedang diperebutkan adalah siapa yang akan menentukan masa depan industri sepak bola global.

Bagikan Artikel: