Saat Banyak Sudah Pensiun, King Kazu Berhasil Cetak Gol di Usia 59 Tahun
Kazuyoshi Miura kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Legenda sepak bola Jepang yang akrab dijuluki King Kazu itu sukses mencetak gol kompetitif pertamanya sejak 2022, meski kini sudah berusia 59 tahun. Gol tersebut lahir saat membela Fukushima United dalam kemenangan telak 7-0 atas Iwaki Furukawa di ajang Piala Kaisar Jepang.

Sumber: Getty
Gol itu tercipta pada menit ke-52. Miura melakukan pergerakan khas seorang striker, menyambut umpan tarik rekan setimnya dengan penyelesaian satu sentuhan yang mengubah skor menjadi 5-0. Seluruh pemain Fukushima langsung berlari menghampirinya untuk merayakan momen langka tersebut. Tiga menit kemudian, sang veteran ditarik keluar lapangan dengan tepuk tangan meriah dari rekan-rekan maupun penonton.
Bagi banyak pemain, mencetak gol di usia 35 tahun saja sudah dianggap luar biasa. Namun Miura melakukannya saat usianya mendekati 60 tahun. Ini menjadi gol kompetitif pertamanya sejak November 2022 ketika masih membela Suzuka PG, yang kini bernama Atletico Suzuka.
Miura memang telah menjalani karir yang nyaris sulit dipercaya. Ia memulai perjalanan profesionalnya pada 1986 di Brasil sebelum kembali ke Jepang dan menjadi ikon generasi pertama J.League. Sepanjang kariernya, ia pernah bermain di Italia bersama Genoa, Kroasia bersama Dinamo Zagreb, Australia bersama Sydney FC hingga memperkuat berbagai klub di Jepang. Namanya juga menjadi simbol kebangkitan sepak bola Jepang pada era 1990-an.
Yang lebih mengagumkan lagi, Miura belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Ia baru saja memperpanjang masa peminjamannya di Fukushima United hingga pertengahan 2027. Artinya, besar kemungkinan ia masih akan bermain sebagai pesepakbola profesional ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-60.
Di era sepak bola modern yang sangat mengandalkan kecepatan, stamina dan fisik, keberadaan Miura terasa seperti sebuah anomali. Banyak pemain elite memilih pensiun pada usia pertengahan 30-an karena tubuh tak lagi mampu mengikuti intensitas pertandingan. Miura justru terus menjaga kebugarannya, berlatih setiap hari dan tetap mampu bersaing di level profesional.
Tentu saja, ia bukan lagi pemain yang tampil setiap pekan selama 90 menit penuh. Namun kisahnya menjadi pengingat bahwa dedikasi terhadap profesi bisa membuat seseorang terus berkarya jauh melewati batas yang dianggap normal. Selama seseorang masih memiliki kemauan untuk berlatih, menjaga disiplin dan mencintai apa yang dikerjakannya, selalu ada kesempatan untuk menulis bab baru dalam hidup.