Samsung, SK Hynix, dan Micron Digugat atas Dugaan Kartel Harga RAM
Tiga produsen memori terbesar di dunia, Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, menghadapi gugatan kelas aksi di pengadilan federal California, Amerika Serikat. Ketiganya dituduh bersekongkol membatasi pasokan chip memori DRAM untuk mendorong kenaikan harga RAM secara artifisial di tengah lonjakan permintaan industri kecerdasan buatan (AI).

Sumber: Future
Gugatan tersebut diajukan oleh sekelompok konsumen dan pelaku usaha kecil pada 25 Juni 2026. Para penggugat menilai ketiga perusahaan yang menguasai sekitar 90% pasar DRAM global telah melanggar hukum anti monopoli AS dengan mengatur produksi dan harga secara terkoordinasi sejak 2022.
Menurut isi gugatan, Samsung, SK Hynix, dan Micron sengaja mengurangi produksi memori DDR3 dan DDR4 dengan alasan mengalihkan kapasitas pabrik ke produksi HBM (High Bandwidth Memory), jenis memori berkecepatan tinggi yang sangat dibutuhkan untuk server AI. Para penggugat berpendapat bahwa transisi tersebut dimanfaatkan sebagai dalih untuk menciptakan kelangkaan pasokan RAM konvensional sehingga harga melonjak tajam.
Akibat dugaan praktik tersebut, harga berbagai produk berbasis memori—mulai dari RAM PC, laptop, hingga smartphone—naik drastis sepanjang 2026. Sejumlah produsen perangkat bahkan mulai meneruskan kenaikan biaya komponen kepada konsumen melalui penyesuaian harga produk.
Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa harga DRAM telah meningkat sekitar 700% dalam empat tahun terakhir. Para penggugat menilai kenaikan sebesar itu tidak sepenuhnya disebabkan oleh mekanisme pasar, melainkan karena pasokan sengaja ditekan oleh tiga pemain dominan tersebut.
Para penggugat juga menyoroti bahwa dominasi Samsung, SK Hynix, dan Micron membuat hampir tidak ada pesaing yang mampu menyeimbangkan pasar. Dengan pangsa pasar yang sangat besar, keputusan produksi dari ketiga perusahaan dinilai memiliki dampak langsung terhadap harga memori di seluruh dunia.
Hingga berita ini ditulis, ketiga perusahaan belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan dalam gugatan tersebut. Karena kasus masih berada pada tahap awal proses hukum, seluruh tuduhan tersebut belum terbukti di pengadilan.
Kasus serupa terjadi pada skandal price fixing DRAM pada awal 2000-an. Saat itu sejumlah produsen memori, termasuk Samsung dan Hynix, mengaku bersalah atau mencapai penyelesaian hukum setelah otoritas AS menemukan adanya praktik pengaturan harga chip memori. Pada 2018 juga pernah diajukan gugatan serupa terhadap Samsung, SK Hynix, dan Micron, namun akhirnya ditolak pengadilan karena dinilai kekurangan bukti yang memadai.
Artikel Terkait
Kylian Mbappé Jadi Wajah EA SPORTS FC 27, Jude Bellingham Temani di Ultimate Plus Edition
3 days ago
Victor Wembanyama Jadi Cover Athlete NBA 2K27, Derrick Rose dan Caitlin Clark Ramaikan Edisi Spesial
4 days ago
Sebar Virus Lewat Game Steam, Pria 21 Tahun Ditangkap Setelah Tinggalkan Jejak Digital
5 days ago