Studi Ungkap Bahaya Kompor Gas bagi Penderita Asma
Bau masakan yang mengepul dari dapur mungkin terasa akrab di banyak rumah. Namun, bagi penderita asma, api biru dari kompor gas bisa menjadi musuh yang tak terlihat. Sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat menemukan bahwa mengganti kompor gas dengan kompor listrik, khususnya kompor induksi, mampu mengurangi gejala asma hingga tingkat yang sebanding dengan manfaat sejumlah obat asma.

Sumber: Getty
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Prof. Ash Sehgal dari MetroHealth, Cleveland, Ohio. Awalnya studi ini dirancang melibatkan sekitar 1.200 peserta, tetapi terhenti lebih awal setelah pergantian pemerintahan di Amerika Serikat sehingga hanya berhasil mengumpulkan data dari puluhan rumah tangga. Meski skalanya mengecil, hasilnya tetap membuka mata.
Para peneliti mengganti kompor gas milik peserta yang memiliki asma tidak terkontrol dengan kompor listrik induksi. Setelah beberapa bulan, kunjungan ke rumah sakit akibat asma turun sekitar 70 persen, sementara hari sekolah atau kerja yang terlewat karena serangan asma berkurang hingga sekitar 80 persen. Skor pengendalian asma peserta juga membaik secara signifikan, bahkan besarnya perbaikan dinilai setara atau melampaui hasil yang biasa diperoleh dari penggunaan beberapa obat asma.
Kuncinya ada pada kualitas udara di dalam rumah. Pengukuran menunjukkan kadar nitrogen dioksida (NO₂), polutan yang dihasilkan pembakaran gas, turun sekitar 70 persen setelah kompor diganti. NO₂ telah lama diketahui dapat memicu iritasi saluran pernapasan dan memperburuk gejala asma, terutama pada anak-anak dan orang yang sudah memiliki gangguan paru. Menariknya, hampir seluruh peserta mengaku lebih puas menggunakan kompor induksi dibanding kompor gas. Selain lebih mudah dibersihkan, kompor induksi juga tidak menghasilkan emisi pembakaran langsung ke dalam ruangan.
Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Jumlah pesertanya relatif sedikit dan belum menggunakan kelompok pembanding yang tetap memakai kompor gas. Karena itu, para peneliti menilai diperlukan studi yang lebih besar untuk memastikan hasilnya.
Temuan ini juga menyoroti persoalan yang lebih luas. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pembicaraan soal kompor gas biasanya berkisar pada subsidi LPG 3 kilogram atau harga energi. Jarang sekali kualitas udara dalam rumah masuk dalam diskusi publik, padahal masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, mengganti kompor bukan keputusan sederhana. Di Amerika Serikat saja, biaya penggantian beserta peningkatan instalasi listrik bisa mencapai ribuan dolar, terutama pada rumah-rumah tua. Peneliti bahkan menyarankan agar pemerintah atau perusahaan asuransi mempertimbangkan subsidi karena biaya awal tersebut berpotensi diimbangi oleh penurunan biaya pengobatan dan rawat inap akibat asma.
Artikel Terkait
Klub Lari di Bali Tolak WNI dan Terima Ekspatriat, Berujung Dicekal Imigrasi
1 day ago
Kreativitas Kebablasan, Restoran di Korea Selatan Diseret ke Pengadilan karena Sajikan Semut
3 days ago
Trailer Perdana Avengers: Doomsday Resmi Dirilis, Doctor Doom hingga X-Men Jadi Sorotan
3 days ago