Memuat tanggal...
Logo
Akhir Perjalanan OnePlus di AS dan Eropa, Bukan Soal HP Jelek tapi Strategi yang Gagal
Tekno 17 July 2026, 22:13 WIB Shaddam Putra

Akhir Perjalanan OnePlus di AS dan Eropa, Bukan Soal HP Jelek tapi Strategi yang Gagal

OnePlus resmi mengakhiri perjalanannya di pasar Amerika Utara dan Eropa. Keputusan ini menandai berakhirnya kiprah merek yang selama lebih dari satu dekade dikenal sebagai flagship killer karena menawarkan ponsel dengan spesifikasi tinggi namun harga lebih terjangkau dibanding para pesaingnya. Sementara itu, perusahaan memastikan operasinya di India tetap berjalan normal dan bahkan akan menjadi salah satu fokus utama ke depan.

Sumber: The Verge

Keputusan tersebut memang cukup mengejutkan, tetapi jika melihat perjalanan OnePlus dalam beberapa tahun terakhir, langkah ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tak terduga.

Saat pertama kali hadir pada 2014, OnePlus berhasil menarik perhatian berkat strategi sederhana namun efektif: menghadirkan performa kelas atas tanpa harga selangit. Produk seperti OnePlus One hingga OnePlus 7 sempat menjadi favorit para penggemar Android yang menginginkan pengalaman premium dengan harga lebih masuk akal.

Namun seiring waktu, identitas itu mulai memudar. Harga ponsel OnePlus terus naik hingga mendekati Samsung Galaxy dan iPhone, sementara keunggulan harganya semakin tipis. Pada saat yang sama, kompetisi dari Xiaomi, Google Pixel, hingga Nothing juga semakin ketat.

Masalah terbesar justru datang dari pasar Amerika Serikat. Menurut analisis The Verge, OnePlus sebenarnya tidak pernah benar-benar memiliki peluang besar untuk berkembang di AS karena karakter pasar smartphone di sana sangat berbeda dengan Asia maupun Eropa.

Di Amerika Serikat, mayoritas konsumen membeli ponsel melalui operator seluler seperti Verizon, AT&T, atau T-Mobile. Ponsel flagship biasanya dijual melalui skema cicilan panjang, potongan harga, atau bonus tukar tambah yang membuat perangkat premium dari Apple dan Samsung terasa jauh lebih terjangkau di mata konsumen. Dalam kondisi seperti itu, keunggulan utama OnePlus, yakni harga murah, menjadi kurang relevan.

Bahkan ketika OnePlus akhirnya berhasil masuk ke jaringan operator besar, kerja sama tersebut tidak bertahan lama. Verizon hanya menjual beberapa model, sementara T-Mobile menghentikan penjualan flagship OnePlus sejak 2022. Setelah kehilangan dukungan operator, akses OnePlus ke konsumen Amerika ikut menyusut drastis.

Padahal, menurut berbagai laporan industri, Apple dan Samsung menguasai sekitar 90 persen penjualan smartphone melalui operator di Amerika Serikat. Bagi merek lain, menembus dominasi tersebut memang bukan perkara mudah.

Kini OnePlus menyatakan tidak akan lagi meluncurkan produk baru di Amerika Utara maupun Eropa. Dukungan bagi pengguna lama tetap diberikan melalui OPPO, termasuk layanan garansi dan pembaruan perangkat lunak. Dalam prosesnya, sistem operasi OxygenOS juga akan semakin diintegrasikan dengan ColorOS milik OPPO sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan.

Sebaliknya, India justru menjadi pasar yang dipertahankan. OnePlus menegaskan seluruh kegiatan bisnis, penjualan, hingga layanan purna jual di negara tersebut tetap berjalan seperti biasa. India selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu pasar terbesar OnePlus sekaligus basis pengguna paling loyal di luar China.

Keputusan ini juga menunjukkan perubahan besar dalam strategi perusahaan. Alih-alih terus menghabiskan sumber daya untuk bersaing di pasar yang sulit ditembus, OnePlus tampaknya memilih memusatkan perhatian pada wilayah yang masih memberikan pertumbuhan dan keuntungan.

Di sisi lain, mundurnya OnePlus juga menjadi pengingat bahwa kualitas produk saja tidak selalu cukup untuk memenangkan persaingan smartphone global. Distribusi, kemitraan dengan operator, layanan purna jual, hingga strategi pemasaran sering kali sama pentingnya dengan spesifikasi perangkat.

Ironisnya, OnePlus justru mengakhiri kiprahnya di Amerika ketika kualitas produknya dinilai sedang berada di level terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di pasar yang sangat dikuasai oleh Apple dan Samsung, bahkan ponsel yang bagus pun belum tentu mampu bertahan jika model bisnisnya tidak sesuai dengan cara konsumen membeli perangkat.

Tags: #gadget

Bagikan Artikel: