Bediding Kembali Datang, Kenapa Musim Kemarau Justru Bikin Indonesia Menggigil?
Bagi kebanyakan orang, musim kemarau identik dengan cuaca panas. Namun di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, justru muncul fenomena yang membuat malam dan dini hari terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Masyarakat Jawa mengenal kondisi ini dengan istilah bediding.

Sumber: TEMPO
Fenomena bediding kembali menjadi perhatian seiring memasuki puncak musim kemarau 2026. BMKG juga telah memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata, sehingga kondisi dingin pada malam hari berpotensi lebih terasa.
Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa. Kata ini secara harfiah berarti ‘terasa sangat dingin’ atau ‘menggigil karena udara dingin’. Sejak dulu, masyarakat di Pulau Jawa menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan udara malam hingga pagi hari yang menusuk tulang saat puncak musim kemarau tiba. Meski sering dianggap sebagai fenomena baru karena ramai dibahas di media sosial, bediding sebenarnya sudah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat pedesaan, khususnya di wilayah dataran tinggi dan pedalaman.
Penyebab utama bediding adalah langit yang cenderung cerah dan minim awan. Pada siang hari, sinar Matahari bisa langsung memanaskan permukaan bumi sehingga udara terasa terik. Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan bumi dilepaskan kembali ke atmosfer. Karena tidak ada awan yang berfungsi seperti semacam selimut, panas tersebut lepas dengan mudah sehingga suhu udara turun cukup drastis.
Kondisi itu diperkuat oleh angin monsun timur yang bertiup dari Australia. Saat ini Australia sedang mengalami musim dingin, sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia juga lebih dingin dan kering. Kombinasi udara kering, langit cerah dan angin dari selatan inilah yang membuat suhu malam di wilayah selatan Indonesia menjadi lebih rendah dibanding biasanya.
Fenomena ini sering kali disalah artikan sebagai dampak aphelion, yaitu saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya. Padahal, BMKG telah berulang kali menjelaskan bahwa jarak Bumi dengan Matahari saat aphelion tidak cukup besar untuk memengaruhi cuaca secara signifikan. Penyebab utama bediding tetap berasal dari dinamika atmosfer dan pola angin musiman dan bukan karena Bumi menjauh dari Matahari.
Efek bediding paling terasa di daerah pegunungan. Wilayah seperti Dataran Tinggi Dieng misalnya, dapat mencatat suhu mendekati nol derajat Celcius pada puncak musim kemarau. Hal itu terjadi karena udara dingin lebih mudah mengendap di lembah, ditambah dengan ketinggian wilayah yang memang memiliki suhu lebih rendah dibanding dataran rendah.
Menurut BMKG, fenomena ini merupakan siklus tahunan yang biasanya berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus, bahkan bisa berlanjut sampai September jika musim kemarau masih bertahan. Selama periode tersebut, masyarakat disarankan menjaga kondisi tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam dan dini hari serta tetap memperhatikan kecukupan cairan meski cuaca terasa dingin.
Sumber: TEMPO