Bukan Sekadar Perayaan, Gebyar Malahayati 2026 Bawa Pesan Lawan Jerat Pinjol dan Judol
Stop mengeluh, ayo singsingkan lengan.
Bahu membahu, saling membantu.
Jutaan manusia menunggu senyum tulusmu.
Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa.
Begitulah petikan lirik dari lagu Katanya karya Iwan Fals yang dikutip oleh CEO PT Malahayati Nusantara Raya, Ahmad Maulana atau biasa disapa Bang Ujay.

Bang Ujay dan Iwan Fals di Gebyar Malahayati 2026.
Lirik tersebutlah yang menjadi pemantik semangatnya ketika memulai dari nol, dari seorang driver ojek online menjadi pendiri Malahayati. Semangat yang terus membawanya untuk menolong mereka yang terjerat dalam palung pinjol dan judol, yang kini terkumpul dengan semangat serupa di acara Gebyar Malahayati 2026.
Acara yang digelar pada Minggu, 9 Agustus 2026 di Gedung Balai Sudirman, Jakarta Selatan tersebut dihadiri oleh sekitar lebih dari 1.500 pengunjung, yang terdiri dari berbagai karyawan, mitra, agen dan klien-klien yang tergabung dalam ekosistem Malahayati.

Pembagian doorprize di Gebyar Malahayati 2026.
Acara ini diisi oleh pertunjukan pantomim, testimoni dari tiga artis yang telah terbantu oleh Malahayati, pembagian doorprize seperti sepeda gunung dan motor listrik, dan ditutup oleh Special Show dari Iwan Fals.
Lebih dari semua hiburan tersebut, acara ini ditujukan untuk menunjukkan eksistensi Malahayati sebagai tonggak pembantu mereka yang membutuhkan pendampingan dari ancaman permasalahan fintech. Dari ribuan klien yang telah tertolong dan hadir di Gebyar Malahayati 2026, masih banyak sekali yang terbebani secara finansial dan emosional akibat pinjol dan judol di luar sana.

Bang Ujay di Gebyar Malahayati 2026.
“Tiga hari yang lalu di daerah Siak, ada seorang dokter yang bunuh diri gara-gara (pinjol),” ungkap Bang Ujay di hadapan para audiens. Ia menambahkan bahwa dari Januari sampai Juli 2026, kasus bunuh diri akibat terjerat hutang pinjol mencapai 35 orang.
Angka tersebut membuat Bang Ujay memperingatkan bahwa perjuangan melawan ancaman tersebut masih jauh dari kata selesai dan setiap unsur masyarakat harus bertanggung jawab untuk bergerak terhadap hal tersebut, meskipun gerakannya sekecil sekadar sosialisasi tentang kehadiran Malahayati.
“Informasi yang kalian dapat dari kami, jangan sampai berhenti di kalian.”
Gebyar Malahayati 2026 pada akhirnya bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat bahwa perjuangan menghadapi jerat pinjol dan judol masih panjang dan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Membagikan informasi, mengedukasi orang terdekat, dan mengajak mereka mencari bantuan ketika terjebak sudah menjadi langkah berarti.
Sebab, seperti semangat yang dibawa Malahayati, informasi yang kita dapatkan seharusnya tidak berhenti di diri sendiri, tetapi diteruskan agar semakin banyak orang tahu bahwa mereka tidak harus menghadapi masalah itu sendirian.