Gubernur DKI Jakarta Resmikan Hunian Baru Korban Kebakaran, Kolaborasi PT Malahayati Nusantara Raya dan BAZNAS DKI
Jakarta — Bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat kebakaran, bantuan tidak hanya soal sembako atau santunan. Yang paling mendesak adalah kepastian: kapan bisa pulang dan kembali menjalani hidup secara normal. Itulah yang akhirnya dirasakan puluhan warga Jalan Bangka III-A RT 014/RW 02, Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, setelah kawasan tempat tinggal mereka rampung dibangun kembali.

Sambutan Bapak Gubernur Pramono Anung/ Dok. Mative
Selama kurang lebih enam bulan sejak kebakaran melanda pada awal Februari 2026, proses pemulihan kawasan dilakukan melalui kolaborasi antara Baznas (Bazis) Provinsi DKI Jakarta, PT Malahayati Nusantara Raya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, serta masyarakat setempat.
Peresmian kawasan dilakukan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebagai penanda bahwa warga kini dapat kembali menempati lingkungan yang lebih layak, aman, dan nyaman. Momentum tersebut menjadi lebih dari sekadar seremoni pembangunan. Bagi para penyintas, ini adalah awal untuk kembali membangun kehidupan.

Bapak Gubernur Pramono Anung meresmikan bedah kawasan/ Dok. Mative Media
Di tengah meningkatnya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat ibu kota, proses pemulihan pascabencana kerap menjadi tantangan yang jauh lebih panjang dibandingkan saat musibah terjadi. Karena itu, penyelesaian pembangunan kawasan di Pela Mampang menjadi contoh bahwa kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat hadirnya solusi nyata bagi masyarakat.

Bapak Ahmad Maulana (Bang Ujay) Founder Malahayati Nusantara Raya & Bapak Dr. Ir. Syafrin Liputo, A.T.D, M.T Walikota Jakarta Selatan/ Dok. Mative Media
Dalam program tersebut, PT Malahayati Nusantara Raya mengambil peran melalui dukungan terhadap proses pembangunan sekaligus pendampingan kepada warga selama masa pemulihan. Perusahaan menilai bahwa membangun kembali tempat tinggal tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga dengan upaya mengembalikan rasa aman, optimisme, dan harapan masyarakat setelah kehilangan tempat tinggal.
Komitmen tersebut bukan kali pertama dilakukan perusahaan. Sebelumnya, PT Malahayati Nusantara Raya juga telah menjalankan sejumlah program bedah rumah gratis di berbagai daerah sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan yang berorientasi pada kebutuhan dasar masyarakat.
Selama proses pembangunan berlangsung, pemerintah, Baznas (Bazis), dunia usaha, serta warga bergotong royong memastikan pembangunan berjalan sesuai target. Pendekatan kolaboratif ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat kawasan dapat kembali dihuni dalam waktu relatif singkat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemulihan tersebut.
“Kami mengapresiasi PT Malahayati Nusantara Raya yang secara konsisten menghadirkan program-program sosial bagi masyarakat Jakarta. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh bagaimana dunia usaha dapat berjalan bersama pemerintah dan lembaga sosial dalam menghadirkan manfaat yang nyata bagi warga.”
Sementara itu, Direktur Utama PT Malahayati Nusantara Raya, Ahmad Maulana (Bang Ujay), menegaskan bahwa keberhasilan sebuah program sosial tidak hanya diukur dari jumlah bangunan yang berdiri, melainkan dari kehidupan masyarakat yang dapat kembali berjalan.
Bagi kami, membangun rumah berarti mengembalikan harapan. Karena itu kami bersyukur dapat bergotong royong bersama Baznas DKI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan masyarakat untuk menghadirkan kembali tempat tinggal yang layak bagi warga terdampak. Semoga kolaborasi seperti ini dapat terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Lebih dari sekadar membangun kembali rumah, penyelesaian kawasan di Pela Mampang menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. Ketika pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat bergerak dalam tujuan yang sama, proses bangkit dari musibah dapat berlangsung lebih cepat dan memberi dampak yang jauh lebih luas.
Di tengah tingginya kebutuhan hunian layak bagi masyarakat perkotaan, model kolaborasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak berhenti pada saat bencana terjadi. Kepedulian justru diuji ketika masyarakat membutuhkan kesempatan untuk memulai kembali kehidupannya.