Memuat tanggal...
Logo
Indonesia Emas 2045 Butuh Kampus Inovatif dan Transisi Energi, Kata Bappenas
News 30 June 2026, 20:45 WIB Shaddam Putra

Indonesia Emas 2045 Butuh Kampus Inovatif dan Transisi Energi, Kata Bappenas

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menegaskan bahwa percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 harus ditopang oleh dua pilar utama, yakni penguatan peran perguruan tinggi serta percepatan transisi energi yang berkeadilan. Hal tersebut disampaikan dalam dua agenda berbeda yang digelar Bappenas pada akhir Juni 2026.

Sumber: Bappenas

Dalam SDGs Center Conference 2026, Bappenas bersama Indonesia SDGs Center Network (ISCN) menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan. Melalui jejaring SDGs Center di berbagai universitas, kampus diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi langsung dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti, pendampingan pemerintah daerah, serta pemberdayaan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target SDGs.

Bappenas menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan komunitas lokal menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks. Karena itu, keberadaan ISCN diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus memperluas implementasi praktik pembangunan berkelanjutan hingga ke tingkat daerah.

Di sisi lain, Menteri PPN/Kepala Bappenas menegaskan bahwa transisi energi merupakan pondasi penting dalam membangun Indonesia Emas 2045. Menurutnya, perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih bukan hanya agenda lingkungan, melainkan strategi pembangunan nasional yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, menciptakan lapangan kerja hijau, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Bappenas menilai Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan potensi energi baru dan terbarukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memenuhi komitmen penurunan emisi. Namun, proses tersebut membutuhkan perencanaan yang matang agar berlangsung secara bertahap, adil, dan tidak menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi yang merugikan masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Bappenas juga meluncurkan strategi transisi energi berbasis kewilayahan. Pendekatan ini dirancang agar setiap daerah dapat menyusun kebijakan sesuai karakteristik sumber daya, kebutuhan energi, serta kondisi ekonominya masing-masing, sehingga proses transisi dapat berjalan lebih efektif dan inklusif.

Bappenas memandang keberhasilan pembangunan menuju 2045 tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata. Penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui perguruan tinggi, inovasi berbasis riset, serta transformasi menuju energi bersih harus berjalan secara bersamaan agar Indonesia mampu mencapai target pembangunan berkelanjutan sekaligus menjadi negara maju pada tahun 2045.

Bagikan Artikel: