Memuat tanggal...
Logo
Korea Selatan Ajak Korea Utara Akhiri Perang yang Belum Usai
News 15 August 2026, 21:12 WIB Shaddam Putra

Korea Selatan Ajak Korea Utara Akhiri Perang yang Belum Usai

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung kembali membuka pintu dialog dengan Korea Utara. Dalam pidatonya pada Sabtu (15/8/2026), Lee mengusulkan agar kedua negara memulai pembicaraan untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea yang sampai sekarang secara teknis masih berlangsung. Lee menyampaikan ajakan tersebut dalam upacara memperingati Hari Pembebasan Korea ke-81 di Seoul. Menurutnya, kedua pihak perlu mengesampingkan niat untuk saling mengancam dan mulai membicarakan langkah konkret menuju perdamaian. Lee juga membuka kemungkinan membahas cara menghentikan perkembangan kemampuan nuklir Korea Utara.

Selama ini, hubungan kedua Korea memang berada dalam situasi yang agak unik. Perang Korea yang berlangsung pada 1950-1953 tidak pernah benar-benar ditutup dengan perjanjian damai. Konflik tersebut hanya dihentikan melalui perjanjian gencatan senjata pada 1953. Artinya, secara teknis kedua negara masih berada dalam kondisi perang. Lee ingin kondisi tersebut diubah. Ia mengatakan Korea Selatan akan berupaya menggantikan sistem gencatan senjata yang dianggap tidak stabil dengan rezim perdamaian yang lebih permanen.

Namun, jalan menuju meja perundingan jelas tidak akan mudah. Korea Utara sejauh ini belum merespons berbagai tawaran dialog dari pemerintahan Lee. Sebaliknya, Pyongyang justru semakin memperkuat hubungan militernya dengan Rusia. Korea Utara juga semakin tegas mempertahankan statusnya sebagai negara nuklir. Setelah pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi pada 2019 gagal mencapai kesepakatan,

Situasi di kawasan pun sedang tidak terlalu bersahabat. Korea Utara baru-baru ini mengecam latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat yang akan dimulai pada 17 Agustus. Pyongyang menganggap latihan tersebut sebagai ancaman dan telah memperingatkan akan mengambil langkah penguatan pertahanan sebagai respons.

Di sisi lain, Korea Utara juga semakin dekat dengan Rusia. Kerja sama tersebut mencakup dukungan dalam perang Rusia di Ukraina, sementara Korea Utara disebut mendapatkan bantuan finansial, pangan, energi, serta teknologi militer dari Rusia sebagai imbalan atas dukungan pasukan dan amunisi.

Pemerintahan Lee sendiri mengambil pendekatan yang jauh lebih lunak dibandingkan pendahulunya. Sejak berkuasa pada Juni 2025, Lee menawarkan dialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat. Pemerintahannya juga mulai menggeser fokus dari tuntutan agar Korea Utara langsung membongkar senjata nuklir menjadi upaya menghentikan ekspansi kemampuan nuklir negara tersebut.

Korea Utara saat ini justru sedang memperkuat posisi militernya dan memperdalam hubungan dengan Rusia. Karena itu, ajakan Lee bisa dibilang sebagai langkah diplomatik yang cukup berani. Seoul mencoba membuka ruang dialog di tengah hubungan yang masih dingin, ancaman nuklir yang belum selesai, serta meningkatnya ketegangan militer di kawasan.

Bagikan Artikel: