Lansia Tewas Ditabrak Tesla Autopilot, Keluarga Tuntut Ganti Rugi dan Buka Rekam Jejak Kecelakaan Serupa
Keluarga seorang lansia berusia 76 tahun di Texas, Amerika Serikat, menggugat Tesla atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian anggota keluarga mereka dalam kecelakaan yang melibatkan sistem Autopilot. Gugatan tersebut diajukan setelah sebuah Tesla Model 3 menabrak rumah keluarga di kawasan Katy, Texas, pada 19 Juni lalu dan menghantam Martha Avila yang berada di dalam rumah. Avila kemudian meninggal akibat luka-luka yang dideritanya.

Sumber: REUTERS
Menurut gugatan yang diajukan oleh Jennifer dan Justin Barbour, anak serta menantu korban, pengemudi Tesla bernama Michael Butler mengaktifkan fitur Autopilot atau Full Self-Driving (FSD) sebelum kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dan keluar jalur hingga menghantam rumah mereka. Keluarga korban menuntut ganti rugi lebih dari 1 juta dolar AS serta hukuman tambahan (punitive damages) terhadap Tesla dan pengemudi.
Dalam dokumen gugatan, Tesla dituduh gagal memperingatkan pengguna mengenai keterbatasan sistem bantuan mengemudi mereka dan memasarkan teknologi tersebut secara menyesatkan seolah-olah mampu mengemudi dengan aman tanpa pengawasan penuh dari manusia. Keluarga korban juga menuding perusahaan mengetahui adanya potensi masalah pada sistem tersebut namun tidak mengambil langkah yang memadai untuk mencegah kecelakaan serupa.
Tesla membantah bahwa perangkat lunaknya menjadi penyebab kecelakaan. CEO Tesla, Elon Musk, menyatakan bahwa sistem Full Self-Driving biasanya membatasi kecepatan di lingkungan permukiman dan menegaskan bahwa pengemudi dapat mengambil alih kendali kapan saja. Kepala AI Tesla, Ashok Elluswamy, bahkan mengklaim data kendaraan menunjukkan pengemudi menekan pedal gas hingga 100 persen sehingga menimpa sistem otomatis yang sedang aktif.
Kasus ini kini menjadi perhatian dua lembaga federal Amerika Serikat. Selain penyelidikan dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), National Transportation Safety Board (NTSB) juga telah membuka investigasi independen untuk menentukan apakah sistem bantuan mengemudi Tesla berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut.
Gugatan di Texas ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan Autopilot Tesla. Pada Februari 2026, hakim federal Amerika Serikat mempertahankan putusan juri yang menyatakan Tesla ikut bertanggung jawab dalam kecelakaan fatal terkait Autopilot di Florida. Tesla diperintahkan membayar sekitar 243 juta dolar AS kepada korban dan keluarganya. Putusan tersebut menjadi salah satu kekalahan hukum terbesar Tesla terkait teknologi bantuan mengemudi.
Menurut data NHTSA, sejak 2016 lembaga tersebut telah membuka hampir 50 investigasi khusus terkait kecelakaan Tesla yang melibatkan Autopilot atau sistem bantuan mengemudi lainnya. Sekitar dua lusin kasus di antaranya berujung kematian. Pada 2023, Tesla juga terpaksa melakukan penarikan (recall) terhadap hampir 2 juta kendaraan untuk memperkuat pengawasan pengemudi saat menggunakan Autopilot.
Kasus terbaru di Texas diperkirakan akan menjadi salah satu ujian hukum terbesar berikutnya bagi Tesla. Jika penyelidikan federal menemukan bahwa sistem bantuan mengemudi memang berperan dalam kecelakaan tersebut, hasilnya dapat memengaruhi regulasi kendaraan semi-otonom di Amerika Serikat dan memperkuat tuntutan terhadap cara Tesla memasarkan teknologi Autopilot serta Full Self-Driving kepada konsumennya.
Sumber: The Guardian, Al-Jazeera
Artikel Terkait
Bos Sindikat Jual Bayi Divonis 7 Tahun, Hukuman yang Dinilai Belum Sebanding dengan Kejahatannya
2 days ago
Aktivis Pro-Palestina Diisolasi 23 Jam Sehari, Irlandia Desak Jerman Beri Penjelasan
3 days ago
Dana Pakan Satwa Diduga Dikorupsi Rp10 Miliar, Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Ditahan
3 days ago