Menurut Riset, Wanita Lansia di Jepang Lebih Nyaman Curhat Dengan AI
Di Jepang, kecerdasan buatan (AI) ternyata bukan cuma jadi alat bantu kerja atau teknologi harian. Lebih jauh dari itu, AI sekarang juga mulai masuk ke ranah yang lebih personal, yakni urusan hubungan dan perasaan.
Sebuah survei yang dirilis Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community pada akhir Mei 2026 mengungkap hal yang cukup mengejutkan: hampir separuh perempuan lansia Jepang justru lebih nyaman curhat soal hubungan ke AI dibanding ke manusia.

Sumber: Justin McCurry/The Guardian
Data yang dilansir Space Daily (24/5/2026) menunjukkan bahwa 47,8 persen perempuan usia 60–70 tahun memilih AI sebagai tempat konsultasi soal hubungan interpersonal. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding mereka yang masih memilih manusia, yaitu 37,3 persen.
Menariknya, mereka jadi satu-satunya kelompok dalam survei yang lebih condong ke AI daripada manusia. Secara umum, mayoritas responden di Jepang masih memilih manusia sebagai tempat berbagi cerita dan meminta saran Bahkan pada kelompok laki-laki lansia, pola yang muncul justru berbeda. Sekitar 57 persen pria usia 60–70 tahun masih memilih manusia sebagai tempat meminta saran, sementara hanya 25,2 persen yang memilih AI.
Survei ini sendiri dilakukan secara online pada Januari 2026 dengan melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di Jepang.
Peneliti dari Chiba University, Atsushi Nakagomi, mengaku cukup terkejut dengan temuan ini. Menurutnya, AI membuat orang lebih mudah terbuka karena tidak ada rasa takut dihakimi atau dinilai. Buat sebagian orang, AI dianggap seperti ruang aman—tempat mereka bisa cerita tanpa takut gosip, tanpa resiko merusak hubungan sosial, dan tanpa beban penilaian dari orang lain.
Di balik tren ini, sebenarnya ada masalah sosial yang lebih dalam di Jepang, yakni kesepian di kalangan lansia yang semakin meningkat.
Jepang sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi lanjut usia terbesar di dunia, di mana hampir 29 persen penduduknya berusia di atas 65 tahun. Banyak dari mereka hidup sendiri, kehilangan pasangan, atau tinggal jauh dari keluarga. Kondisi ini bikin ruang sosial untuk sekadar ngobrol atau curhat jadi makin terbatas.
Dalam budaya Jepang yang cenderung menahan emosi dan menjaga citra sosial, membicarakan masalah pribadi ke orang lain sering dianggap beresiko. Ada kekhawatiran soal penilaian sosial, atau sekedar jadi bahan omongan. Di titik ini, AI muncul sebagai pihak netral. AI dianggap tidak punya relasi sosial, tidak bisa menghakimi, dan tidak akan membawa cerita itu ke mana-mana. Hal itu yang bikin sebagian lansia merasa lebih aman untuk terbuka.
Sumber: Space Daily, The Guardian