Meski Ada Kemajuan, WHO Sebut Jutaan Anak Masih Belum Mendapat Vaksin Dasar
Setelah sempat terganggu akibat pandemi COVID-19 dan berbagai krisis kemanusiaan, World Health Organization (WHO) dan UNICEF menyatakan cakupan imunisasi anak di seluruh dunia mulai menunjukkan peningkatan. Meski begitu, mereka mengingatkan bahwa kemajuan ini masih sangat rapuh karena konflik bersenjata, misinformasi soal vaksin dan keterbatasan pendanaan masih menjadi hambatan besar.

Sumber: UNICEF
Dalam laporan terbaru WHO dan UNICEF yang dirilis pada 15 Juli 2026, sekitar 90 persen bayi di seluruh dunia atau hampir 116 juta anak telah menerima setidaknya satu dosis vaksin DTP (difteri, tetanus, dan pertusis) pada 2025. Sementara itu, sekitar 85 persen bayi berhasil menyelesaikan tiga dosis vaksin tersebut, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah anak yang sama sekali belum menerima vaksin atau dikenal sebagai zero-dose children juga mengalami penurunan. Pada 2025, angkanya turun hampir 750 ribu anak menjadi sekitar 13,5 juta. Meski begitu, angka tersebut masih jauh dari target global untuk memangkas jumlah anak tanpa vaksin hingga setengahnya sebelum 2030.
WHO dan UNICEF menyebut sebagian besar anak yang belum mendapat imunisasi tinggal di wilayah yang dilanda konflik atau memiliki sistem kesehatan yang lemah. Negara-negara seperti Sudan, Yaman, Suriah dan Palestina menjadi contoh wilayah yang paling terdampak, di mana layanan kesehatan rutin terganggu akibat peperangan dan krisis kemanusiaan.
Selain anak yang belum pernah divaksin, ada masalah lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Sekitar 7,3 juta bayi diketahui sempat menerima vaksin DTP pertama, tetapi tidak melanjutkan hingga vaksin campak dosis pertama. Kondisi ini membuat perlindungan mereka terhadap penyakit berbahaya menjadi tidak optimal. WHO mencatat berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin kembali meningkat di sejumlah negara. Wabah campak menjadi perhatian utama karena cakupan vaksin campak masih belum mencapai tingkat yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok. Selain campak, kasus difteri dan kolera juga mengalami peningkatan di beberapa wilayah.
Kemajuan juga terlihat pada vaksin HPV yang dapat mencegah kanker serviks. Cakupan vaksin HPV secara global terus meningkat, meski masih berada di kisaran 31 persen dan belum mencapai target yang diharapkan WHO.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai peningkatan cakupan imunisasi ini menunjukkan bahwa banyak negara berhasil memulihkan layanan vaksinasi rutin setelah pandemi. Namun, lembaga tersebut menegaskan bahwa jutaan anak masih berisiko tertinggal jika investasi terhadap pelayanan kesehatan dasar terus berkurang.
WHO dan UNICEF juga mengingatkan bahwa pemotongan dana bantuan kesehatan global yang mulai terjadi sejak 2025 berpotensi memperlambat bahkan membalikkan kemajuan yang telah dicapai. Selain itu, keraguan masyarakat terhadap vaksin yang dipicu oleh misinformasi masih menjadi tantangan besar di berbagai negara. Kedua organisasi tersebut mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memperkuat program imunisasi nasional, memastikan vaksin tetap tersedia hingga ke daerah terpencil dan wilayah konflik serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi. Menurut WHO dan UNICEF, hanya dengan langkah tersebut target perlindungan anak secara global pada 2030 dapat tercapai.
Artikel Terkait
Bos Sindikat Jual Bayi Divonis 7 Tahun, Hukuman yang Dinilai Belum Sebanding dengan Kejahatannya
1 day ago
Aktivis Pro-Palestina Diisolasi 23 Jam Sehari, Irlandia Desak Jerman Beri Penjelasan
2 days ago
Dana Pakan Satwa Diduga Dikorupsi Rp10 Miliar, Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Ditahan
2 days ago