Memuat tanggal...
Logo
PBB: Pusat Penipuan Online Kini Jadi Mesin Perdagangan Manusia Global
News 29 July 2026, 19:03 WIB Shaddam Putra

PBB: Pusat Penipuan Online Kini Jadi Mesin Perdagangan Manusia Global

Perdagangan manusia ternyata kini tak lagi identik dengan eksploitasi di pabrik ilegal atau prostitusi. Di era digital, modusnya berubah menjadi jauh lebih canggih. Tawaran kerja bergaji tinggi yang beredar di media sosial justru menjadi pintu masuk ribuan orang ke jaringan pusat penipuan online yang tersebar di berbagai negara, terutama di Asia Tenggara.

Peringatan ini disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut IOM, perdagangan manusia yang berkaitan dengan pusat penipuan online kini menjadi salah satu bentuk perdagangan manusia dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Korbannya berasal dari lebih dari 80 negara.

Sumber: Salvatore di Nolfi/EPA

Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan para korban umumnya direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu di media sosial. Mereka dijanjikan pekerjaan di bidang layanan pelanggan, pemasaran digital atau teknologi dengan gaji besar. Namun setelah tiba di negara tujuan, paspor mereka disita dan mereka dipaksa menjalankan berbagai aksi penipuan daring.

Banyak korban dipaksa menghubungi calon korban lain melalui media sosial, aplikasi pesan, hingga platform kencan untuk menjalankan berbagai modus penipuan investasi, kripto, maupun penipuan romantis. Mereka yang menolak bekerja kerap mengalami kekerasan fisik, ancaman, penyiksaan hingga dikurung dalam isolasi.

Fenomena ini paling banyak ditemukan di Myanmar, Kamboja, dan Laos. Meski beberapa negara telah melakukan operasi besar-besaran, jaringan kriminal terus beradaptasi dengan berpindah ke wilayah yang pengawasan hukumnya lebih lemah.

IOM mengungkapkan bahwa sejak 2022 hingga 2025 mereka telah membantu lebih dari 3.500 korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan tersebut. Korban berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, India, Bangladesh, Sri Lanka, Kenya, dan Ethiopia. Namun angka sebenarnya diyakini jauh lebih besar karena banyak korban belum berhasil diselamatkan.

Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) memperkirakan jaringan penipuan online di Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru menghasilkan kerugian hingga sekitar 114 miliar dolar AS sepanjang tahun lalu. Nilai fantastis itu menunjukkan bahwa bisnis penipuan digital kini telah berkembang menjadi industri kriminal lintas negara dengan keuntungan yang sangat besar.

Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah posisi para korban. Setelah berhasil melarikan diri atau diselamatkan, tidak sedikit dari mereka justru dicurigai sebagai pelaku kejahatan karena pernah menjalankan aksi penipuan. Padahal banyak di antara mereka bekerja di bawah ancaman dan paksaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan penegakan hukum semata tidak cukup. Aparat memang perlu memburu sindikat yang mengendalikan operasi ini, tetapi korban juga harus diperlakukan sebagai penyintas perdagangan manusia.

PBB mendesak kerja sama internasional yang lebih kuat untuk membongkar jaringan kriminal tersebut, meningkatkan perlindungan bagi korban, memperketat pengawasan terhadap perekrutan tenaga kerja lintas negara serta memperluas edukasi agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh tawaran pekerjaan palsu. Tanpa langkah yang terkoordinasi, industri penipuan digital ini dikhawatirkan akan terus berkembang seiring semakin mudahnya pelaku menjangkau calon korban melalui platform digital.

Bagikan Artikel: