Polisi Timor Leste Gerebek Scam Center, Ratusan Warga China dan Indonesia Diamankan
Kepolisian Timor Leste membongkar sebuah jaringan penipuan online berskala internasional yang beroperasi dari sejumlah lokasi di ibu kota Dili. Dalam operasi yang dilakukan selama sepekan terakhir, lebih dari 300 warga negara asing berhasil diamankan. Sebagian besar diantaranya berasal dari China, Indonesia, dan Kamboja.

Sumber: Kepolisian Timor Leste
Penggerebekan ini menjadi salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan aparat Timor Leste terhadap sindikat kejahatan siber lintas negara. Polisi menyebut para tersangka diduga menjalankan berbagai modus penipuan daring yang menyasar korban di berbagai negara.
Menurut otoritas setempat, penggerebekan dilakukan di beberapa bangunan yang diduga dijadikan kompleks operasional penipuan online. Di lokasi tersebut, polisi menemukan berbagai peralatan seperti komputer, telepon seluler, kartu SIM hingga perangkat internet satelit yang diduga digunakan untuk menjalankan aksi penipuan.

Sumber: Kepolisian Timor Leste
Di antara ratusan orang yang ditangkap, terdapat puluhan warga negara Indonesia. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI juga telah mengkonfirmasi bahwa 61 WNI diamankan dalam operasi serupa di Timor Leste dan kini tengah menjalani proses identifikasi serta pendampingan oleh perwakilan Indonesia. Pihak berwenang masih menyelidiki apakah seluruh WNI tersebut merupakan pelaku atau ada di antaranya yang menjadi korban perekrutan kerja ilegal, mengingat praktik scam center di Asia Tenggara kerap melibatkan korban perdagangan manusia yang dijanjikan pekerjaan bergaji tinggi sebelum dipaksa melakukan penipuan.
Timor Leste Jadi Target Baru Sindikat
Kasus ini memperkuat kekhawatiran bahwa Timor Leste mulai menjadi lokasi baru bagi jaringan kejahatan siber internasional. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga investigasi internasional telah memperingatkan bahwa sindikat penipuan online mulai memindahkan operasinya ke negara-negara dengan pengawasan yang masih lemah setelah mendapat tekanan di Kamboja, Myanmar, Laos dan Filipina.
Laporan tersebut menyebut Timor Leste memiliki sejumlah faktor yang dimanfaatkan jaringan kriminal, mulai dari regulasi yang masih berkembang, kebutuhan investasi asing, hingga pengawasan terhadap aktivitas digital yang belum seketat negara lain.
Kepolisian Timor Leste mengatakan operasi belum berhenti. Berdasarkan informasi intelijen yang terus dikumpulkan, masih ada sejumlah lokasi lain yang diduga menjadi markas jaringan penipuan online dan akan menjadi target penggerebekan berikutnya.
Artikel Terkait
Bos Sindikat Jual Bayi Divonis 7 Tahun, Hukuman yang Dinilai Belum Sebanding dengan Kejahatannya
2 days ago
Aktivis Pro-Palestina Diisolasi 23 Jam Sehari, Irlandia Desak Jerman Beri Penjelasan
3 days ago
Dana Pakan Satwa Diduga Dikorupsi Rp10 Miliar, Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Ditahan
3 days ago