Studi Terbaru: Mikroplastik dalam Darah Dikaitkan dengan Risiko Serangan Jantung
Mikroplastik selama ini lebih sering dibahas sebagai ancaman bagi lingkungan. Namun kini, perhatian para ilmuwan mulai bergeser ke dampaknya terhadap kesehatan manusia. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa pasien yang mengalami serangan jantung memiliki kadar mikroplastik dan nanoplastik dalam darah yang lebih tinggi dibanding kelompok lain. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar, yakni apakah serpihan plastik yang kini ada di tubuh manusia ikut berperan dalam penyakit jantung?

Sumber: Getty
Studi yang dipublikasikan di European Heart Journal dan dipresentasikan dalam konferensi European Society of Cardiology (ESC) itu membandingkan sampel darah dari tiga kelompok pasien, yakni pasien yang mengalami serangan jantung akut, pasien penyakit jantung koroner kronis, dan orang dengan pembuluh darah koroner normal. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok pasien serangan jantung memiliki konsentrasi mikroplastik dan nanoplastik yang jauh lebih tinggi di dalam darah.
Para peneliti memang belum bisa menyimpulkan bahwa mikroplastik menjadi penyebab langsung serangan jantung. Namun mereka menemukan indikasi bahwa partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut dapat memicu peradangan di dalam tubuh. Peradangan kronis sendiri sudah lama diketahui menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah hingga akhirnya meningkatkan risiko serangan jantung.
Temuan terbaru ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang sempat menghebohkan dunia medis pada 2024. Saat itu, ilmuwan di Italia menemukan mikroplastik dan nanoplastik di dalam plak pembuluh darah arteri leher lebih dari separuh pasien yang diteliti. Yang mengkhawatirkan, pasien yang memiliki partikel plastik dalam plak tersebut tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung, stroke atau meninggal dalam beberapa tahun berikutnya dibanding mereka yang tidak memilikinya.
Meski begitu, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak buru-buru panik. Hubungan antara mikroplastik dan penyakit jantung masih berupa korelasi dan bukan bukti sebab-akibat. Artinya, belum dapat dipastikan apakah mikroplastik benar-benar memicu serangan jantung atau hanya menjadi penanda adanya kondisi kesehatan tertentu. Sampel penelitian yang didapatkan relatif kecil dan diperlukan studi jangka panjang yang melibatkan lebih banyak peserta untuk memastikan apakah mikroplastik memang berperan langsung dalam kerusakan sistem kardiovaskular.
Walaupun masih menyisakan banyak pertanyaan, satu hal yang hampir disepakati para ilmuwan adalah bahwa mikroplastik kini sudah ada hampir di mana-mana. Partikel ini berasal dari pecahan berbagai produk plastik seperti botol minuman, kemasan makanan, ban kendaraan, pakaian berbahan sintetis hingga debu rumah. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya mudah masuk ke tubuh melalui makanan, air minum maupun udara yang dihirup.
Dalam beberapa tahun terakhir, mikroplastik bahkan telah ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia, mulai dari paru-paru, plasenta, otak, hati, ginjal hingga darah. Berbagai penelitian laboratorium menunjukkan partikel ini berpotensi memicu stres oksidatif, gangguan sistem imun, kerusakan sel dan peradangan. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia masih terus dipelajari.
Temuan-temuan tersebut juga memunculkan kritik terhadap lambatnya upaya global mengurangi pencemaran plastik. Selama bertahun-tahun, isu mikroplastik lebih banyak dipandang sebagai masalah lingkungan. Ketika bukti mulai mengarah pada kemungkinan dampak terhadap kesehatan manusia, tekanan terhadap pemerintah dan industri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai semakin besar.
Sementara penelitian terus berjalan, para ahli menyarankan langkah sederhana untuk mengurangi paparan mikroplastik, seperti menghindari memanaskan makanan dalam wadah plastik, menggunakan botol minum berbahan kaca atau logam, mengurangi konsumsi makanan yang terlalu banyak dikemas plastik serta menjaga kualitas udara di dalam rumah. Langkah-langkah tersebut memang belum bisa menghilangkan paparan sepenuhnya, tetapi dinilai dapat membantu mengurangi jumlah mikroplastik yang masuk ke tubuh.
Artikel Terkait
Terjerat Pinjol Jangan Panik, Malahayati Consultant Ungkap Cara Hadapi Tekanan Kolektor
4 days ago
LPS Peringatkan Bahaya Pinjol Ilegal Paylater Dan Judi Online Bagi Anak Muda
5 days ago
Pinjol, Judol, dan Investasi Ilegal Makin Mengintai, Malahayati Consultant Edukasi Warga Srengseng
1 week ago