Kisah Gerai Burger Khas Amerika Yang Angkat Budaya Madura
Apabila ada yang bertanya soal kuliner Madura, kebanyakan orang mungkin akan menyebut pada makanan-makanan seperti Sate Madura, Bebek Sinjay, atau Soto Madura. Apapun jawabannya, hampir sudah pasti kalau tidak ada yang akan berpikir soal burger.
Namun, hal tersebut tidak menghalangi Zainuddin untuk ‘menikahkan’ budaya Madura dengan penganan yang lebih lekat dengan budaya Barat tersebut.

Sumber: Facebook/Panca Poetra Satrya Akbari
Zainuddin adalah pemilik dari California Burger, bisnis burger yang terletak. Berawal dari berjualan burger di depan rumahnya, kini ia memiliki gerai di Jalan Dr. Moestopo, Surabaya Timur.
Mengapa burger? Zainuddin rupanya memiliki latar belakang sebagai chef di Amerika Serikat, di mana ia belajar meracik burger khas negara tersebut. Dari sana, ia kembali ke tanah air dengan ambisi untuk mendirikan bisnisnya sendiri.
Kok malah kepikiran dulu sebelum balik ke Indonesia ingin buka kuliner dengan style Amerika. Dulu itu sempat punya rencana steak tapi setelah riset-riset ya sudahlah buka burger dulu dengan cita rasa Amerika.
Pada awalnya, Zainuddin merasa ragu apakah burger buatannya bisa diterima oleh lidah orang-orang Surabaya. Namun, didongkrak dengan gerakan influencer yang membuat burger-nya viral, ia kini mendapatkan banyak sekali pelanggan. Tak hanya dari Surabaya, tapi orang Mojokerto dan Jombang pun bela-bela datang untuk menikmati burger-nya.
Sebagai orang berdarah Madura, Zainuddin tidak mengaburkan identitasnya dalam bisnisnya. Sebaliknya, ia ingin menunjukkan identitasnya sebagai orang Madura, membuat orang-orang mengenalinya sebagai ‘orang Madura yang jualan burger’.
Kebetulan saya ini kelahiran Surabaya dan nenek moyang Madura ya membawa budaya Madura. (...) Bahkan yang bekerja di sini juga dandan ala Madura, ayolah kita bisa update, Saya sampai kampanyekan Madura Update. Kapan lagi orang Madura jualan burger.
Zainuddin menyayangkan persepsi terhadap orang Madura yang masih penuh oleh konotasi negatif. Ia berharap dengan usahanya, ia bisa menunjukkan bahwa ada sisi positif dari mereka yang menganut budaya Madura.
Kita juga tidak membenarkan rasisme karena sudah hidup di tahun 2026, kita harus glow up itu mindset saya. Mosok ngono-ngono tok.